Karya-karya Imam Nawawi

Karya-karya Imam Nawawi


Imam Nawawi menyusun banyak kitab fiqh dalam Madzhab Syafi’i .
Di antara karyanya itu ada yang hilang ada juga yang masih ada sampai sekarang.
Di antara yang sudah hilang adalah karyanya berjudul Ruhul Masail fil Furu’ dan ‘Uyun al-Masail al-Muhimmah.

Sementara kitab-kitabnya yang masih ada yang dipandang sangat penting, adalah:

1) Kitab Minhajut Thalibin.

Kitab ini merupakan ringkasan dari Kitab al-Muharrar karya Imam Rafi’i.
Kitab Minhajut Thalibin ini dinilai kitab yang sangat penting bahkan terpenting di antara kitab-kitab periode pertama Madzhab Syafi’i.

Umumnya, kitab ini menjadi rujukan utama para ulama Syafi’iyyah dalam menetapkan sebuah persoalan.
Oleh karena itu, kitab ini mempunyai syarah dan hawasyi yang sangat banyak.
Di antara syarah terhadap kitab ini adalah Mughnil Muhtaj karya al-Khatib asy-Syarbini, al-Manhaj wa Syarhuh karya Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari, Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami, dan Nihayatul Muhtaj karya Imam ar-Ramli.

2) Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftin. 

Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab al-Aziz Syarh al-Wajiz karya Imam Rafi’i.
Kitab ini lebih tebal dari pada kitab Minhajut Thalibin di atas.

3) Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab.

Kitab ini merupakan buku terbesar dan terpenting dari karya Imam Nawawi.
Kitab ini merupakan syarah dari kitab al-Muhadzab karya Abu Ishak as-Syairazi (w 476) sekaligus sebagai kitab syarah paling terkenal dan paling bagus dari pada syarah-syarah al-Muhadzab lainnya.
Kitab ini sangat tebal terdiri tidak kurang dari 30 jilid lebih.

Dalam kitab ini Imam Nawawi bukan semata mengungkapkan pendapat Madzhab Syafi’i, akan tetapi juga membandingkannya dengan madzhab-madzhab lainnya yang tentunya disertai dengan munaqasyah dan rad-rad (sanggahan-sanggahan) tajam.

Hanya saja, Imam Nawawi meninggal sebelum beliau menyelesaikan kitab al-Majmu ini.
Imam Nawawi menulis kitab ini hanya sampai pada Bab Riba dari Kitab al-Buyu’.
Kemudian Imam Taqiyuddin as-Subuki (w 756) mencoba melengkapinya, hanya saja belum sampai selesai kitab al-Majmu’ tersebut, ajal lebih dahulu merenggutnya.

Beliau hanya dapat melengkapi sekitar tiga jilid saja.
Setelah Taqiyuddin al-Subuki meninggal, baru para ulama Syafi’iyyah bangkit mencoba melengkapinya.
Di antara para ulama yang melengkapi kitab al-Majmu’ ini adalah al-Allamah Isa bin Yusuf Mannun (w 1376 H) dan Muhammad Najib al-Muthi’i (w 1406 H).
Kitab al-Majmu’ ini adalah kitab terakhir Imam Nawawi.


Meski demikian, para ulama Syafi’iyyah berikutnya, ketika mereka hendak menetapkan sebuah persoalan berdasarkan Madzhab Syafi’i dari karya-karya Imam Nawawi, mereka lebih banyak berpegang kepada Minhajut Thalibin dan Raudhatut Thalibin dari pada kepada al-Majmu’.

Hal ini barangkali di antaranya disebabkan bahwa kitab al-Majmu’ ditulis bukan oleh Imam Nawawi secara lengkap, akan tetapi juga ditulis oleh ulama-ulama lainnya sebagaimana telah disebutkan di atas.

Oleh karenanya, mereka menilai, kitab al-Majmu’ bukan karya asli Imam Nawawi dan karenanya kurang mendapatkan perhatian dari para ulama Syafi’iyyah berikutnya.

4) Syarah Shahih Muslim.

Imam Nawawi juga mensyarah kitab Shahih Muslim dalam karyanya berjudul al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajaj.
Kitab ini dinilai sebagai kitab syarah terpenting dan terbaik juga lebih terkenal dari pada syarah-syarah lainnya terhadap Shahih Muslim.
Kitab ini dicetak beberapa kali cetakan dan oleh beberapa penerbit.
Hanya saja, yang kami pandang lebih baik tahkikannya adalah yang dicetak oleh Dar Ihya at-Turats al-Arabi yang berikan nomor oleh Ustadz Muhammad Fuad Abdul Baqi’, ditahkik oleh Syaikh Irfan Hasunah dan diberi kata pengantar oleh DR Muhammad al-Mar’isyli.

Hanya saja kitab ini lebih tepat disebut sebagai kitab hadits bukan sebagai buku fiqh.

Namun demikian, buku ini juga dipandang penting manakala hadits-hadits tersebut berkaitan dengan masalah fiqh.
Karya-karya Imam Nawawi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: udan ,