Karya-karya para ulama Syafi’iyyah generasi kedua

Karya-karya para ulama Syafi’iyyah generasi kedua


Sebelum menjelaskan lebih jauh tentang karya-karya pada generasi ini, terlebih dahulu perlu kami kemukakan apa yang dimaksud dengan karya-karya para ulama Syafi’iyyah generasi kedua dalam tulisan ini.
Dimaksudkan dengan karya-karya para ulama Syafi’iyyah generasi kedua ini adalah masa munculnya dua Imam besar yakni Ibn Hajar al-Haitami (w 974 H) dan Syamsud Din Muhammad ar-Ramli (w 1004 H).

Kedua imam ini kami jadikan sub tersendiri mengingat penting dan besarnya sumbangsih keduanya dalam meneruskan pengembangan dan perluasan madzhab Syafi’i setelah sebelumnya dipelopori oleh Imam Rafi’i dan Imam Nawawi.

Besarnya sumbangsih kedua Imam ini terutama dengan syarah keduanya terhadap kitab Minhajut Thalibin karya Imam Nawawi.
Untuk tidak memperbanyak kalam, berikut ini di antara karya kedua imam dimaksud.

1. Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj.

Kitab ini ditulis oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami sebagai syarah terhadap kitab Minhajut Thalibin karya Imam Nawawi.
Kitab ini dicetak beberapa kali dan mempunyai dua hasyiyah yaitu Hasyiyah al-Allamah Ahmad bin Qasim al-Ubady (w 994 H) dan Hasyiyah al-Allamah Abdul Hamid asy-Syarwany.

Buku ini di antaranya dicetak oleh Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut dengan muhaqiq Syaikh Muhammad Abdul Aziz al-Khalidy—dan tahkikan beliau hemat kami lebih bagus dan lebih lengkap.

2. Nihayatul Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj. 

Kitab ini juga merupakan syarah dari kitab Minhajut Thalibin Imam Nawawi yang ditulis oleh Imam Syamsud Din ar-Ramly.
Kitab ini juga dicetak beberapa kali serta mempunyai dua hasyiyah yakni Hasyiyah al-Allamah Nurud Din Ali bin Ali asy-Syibramalisi (w 1087 H) dan Hasyiyah al-Allamah Ahmad Abdur Razaq yang dikenal dengan sebutan al-Maghriby ar-Rasyidy (w 1096 H) Baik kitab Tuhfatul Muhtaj maupun Nihayatul Muhtaj merupakan dua buah kitab yang banyak dijadikan pegangan oleh ulama Syafi’iyyah dalam menetapkan hukum sebuah persoalan atau dalam berfatwa setelah masa Imam Nawawi

Apabila kitab - kitab karya al-Haitami dan ar-Ramli tidak membahas satu persoalan atau membahasnya tapi terlalu singkat, maka yang banyak diambil oleh ulama Syafi’iyyah generasi akhir adalah karya-karya Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari (w 926 H), khususnya kitab al-Manhaj yakni kitab ringkasan dari Kitab Minhajut Thalibin dan kitab al-Ghurar al-Bahiyyah fi Syarh Mandhumatil Buhjah al-Wardiyyah—kedua kitab tersebut telah dicetak.

Setelah buku-buku Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari, kitab berikutnya yang dipandang primer dalam madzhab Syafi’i adalah Mughnil Muhtaj Ila Ma’rifati Ma’ani Alfadh al-Minhaj karya al-Khatib asy-Syarbini (w 977) yang juga merupakan syarah terhadap kitab Minhajut Thalibin.
Kitab ini juga dicetak dan sangat terkenal di kalangan madzhab Syafi’i, termasuk dijadikan referensi utama di lingkungan Universitas al-Azhar fakultas Syariah Islamiyyah.

Setelah kitab Mughnil Muhtaj, maraji’ fiqh Syafi’i berikutnya adalah kitab - kitab hasyiyah (hasyiyah adalah syarah dari buku syarah) misalnya hawasyi yang telah disebutkan di atas, juga hasyiyah Qalyuby Umairah karya Syaikh Syihabuddin al-Qalyubi dan Syaikh Umairah yang merupakan syarah dari syarah Imam Jalaluddin al-Mahally terhadap kitab Minhajut Thalibin karya Imam Nawawi. Persoalan berikutnya, bagaimana apabila antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Syamsuddin ar-Ramli terjadi perbedaan pendapat?

Sebagaimana antara Imam Rafi’i dan Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Syamsuddin ar-Ramli juga terkadang terjadi perbedaan pendapat, hanya saja perbedaan tersebut tidak sebanyak perbedaan antara Imam Nawawi dengan Imam Rafi’i.

Apabila terjadi perbedaan, mana yang harus didahulukan?

Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat antara ulama Mesir dengan ulama Hijaz.
Bagi ulama Mesir, maka pendapat ar-Ramli yang harus didahulukan khususnya apa yang tertera dalam kitabnya, Nihayatul Muhtaj.

Hal ini karena kitab tersebut telah disodorkan, dibaca, diminta kritik serta dibetulkan oleh pengarangnya sendiri kepada 400 ulama.

Sehingga dengan demikian, keabsahan kitab tersebut dapat dikatakan mutawatir dan karenanya harus lebih didahulukan dari pada yang lainnya.

Sedangkan bagi ulama Hijaz, Hadramaut, Syam, Yaman, bahwa yang harus diambil manakala terjadi perbedaan antara ar-Ramli dengan al-Haitami adalah pendapat Ibn Hajar al-Haitami khususnya yang tercantum dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj.
Hal ini dikarenakan kitab tersebut mencakup juga nushush dari Imam al-Haramain al-Juwaini.

Meski demikian, apa yang diungkapakan oleh al-Allamah Umar al-Bashri dalam al-Fawaid al-Makkiyyah (hal 38) berikut ini, hemat kami lebih tepat untuk dijadikan pegangan, bahwa apabila antara ar-Ramli dengan al-Haitami terjadi pertentangan pendapat, apabila mufti tersebut termasuk ulama yang dapat mentarjih, maka ambillah pendapat yang menurutnya lebih kuat.

Namun, apabila bukan termasuk ulama tarjih, maka ia boleh mengambil pendapat mana saja menurut kehendaknya, atau mengambil kedua-duanya, atau mengambil hasil tarjih dari ulama muta’akhir.

Umar al-Bashri juga melanjutkan, seorang mufti juga perlu memperhatikan mustaftinya.
Apabila mustaftinya (yang meminta fatwa) adalah orang-orang yang kuat, maka ambil pendapat yang sedikit memberatkan.
Namun, apabila mustaftinya orang yang lemah, maka ambil pendapat yang paling ringan dan memudahkan.

Soal berikutnya, apabila hendak mencari bagaimana pendapat yang mu’tamad menurut ulama Syafi’iyyah terhadap satu persoalan, apakah cukup dan dipandang sah apabila hanya merujuk kepada dua buah kitab Tuhfatul Muhtaj dan Nihayatul Muhtaj atau salah satunya saja jika persoalan yang dicari memang dibahas dalam dua buah kitab tersebut tanpa melihat dan merujuk kepada karya-karya Imam Rafi’i dan Imam Nawawi?

Untuk menjawab persoalan ini, hemat penulis, anda boleh dan cukup hanya berpegang kepada dua buah kitab tersebut.
Hanya saja, ketika anda mau melihat buku karya Imam Nawawi dan Imam ar-Rafi’i, tentu itu lebih baik karena akan menambah wawasan dan dalil serta penguat lainnya.

Bahkan dengan mengkaji karya Imam Nawawi dan Rafi’i juga, besar kemungkinan akan dapat menghindari kesalahan dan kekeliruan.

Mengapa merujuk dua kitab di atas dipandang cukup?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kami akan sodorkan dua hal penting:


1. Banyak para ulama Syafi’iyyah setelah masa Imam ar-Ramli yang memuji dengan sangat kehebatan dan keunggulan dua buah kitab tersebut yakni at-Tuhfah dan an-Nihayah.
Sehingga para ulama Syafi’iyyah menjadikannya sebagai pegangan utama ketika mereka berfatwa.
Salah satu ulama Syafi’iyyah yang memuji tersebut adalah al-Alamah Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi asy-Syafi’i (w 1194 H) dalam kitabnya berjudul al-Fawaid al-Madaniyyah Fiman Yufta Biqaulihi Min Aimmah asy-Syafi’iyyah sebagaimana dikutip dalam buku at-Tahdzib fi Fiqh al-Imam asy-Syafi’i karya Imam al-Baghawi (I/50-51).

Untuk lebih jelasnya berikut ungkapan beliau:

ذهب علماء مصر—أو أكثرهم—إلى اعتماد ما قاله الشيخ محمد الرملى فى كتبه خصوصا فى نهايته, لأنها قرئت على المؤلف إلى آخرها فى أربعمائة من العلماء فنقدوها وصححوها, فبلغت صحتها إلى حد التواتر, وأكثر علماء اليمن والحجاز إلى أن المعتمد ما قاله الشيخ ابن حجر فى كتبه بل فى تحفته, لما فيها من إحاطة بنصوص الإمام مع مزيد تتبع المؤلف فيها, ولقراءة الحققين لها عليه, الذين لا يحصون كثرة….هذا ما كان فى السالف من علماء الحجاز, ثم وردت علماء مصر إلى الحرمين وقرروا فى دروسهم معتمد الشيخ الرملي, إلى أن فشا قوله فيها, حتى صار من له إحاطة بقولهما يقررها من غير ترجيح…وعندى لا تجوز الفتوى بما يخالفها, بل بما يخالف التحفة والنهاية, إلا إذا لم يتعرضا له, فيفتى بكلام شيخ الإسلام (يقصد الشيخ زكريا الانصارى—توفى سنة 926هـ), ثم بكلام الخطيب (يقصد الخطيب الشربينى توفى سنة 977هـ ).

 2. Kedua Imam Ibn Hajar al-Haitami dan Syamsud Din ar-Ramli dalam kitabnya at-Tuhfah dan an-Nihayah, ketika membahas masalah-masalah fiqh, seringkali menyebut perbedaan pendapat antara Imam Rafi’i dan Imam Nawawi.
Disamping karena usaha dan kejuhudan keduanya dalam menggali gagasan-gagasan dan pemikiran fiqh Imam Nawawi dan Rafi’i tidak diragukan lagi.
Oleh karena itu, karya keduanya dipandang lumayan mewakili karya Imam Nawawi dan Rafi’i.

Hanya saja, memang sekali lagi, mengkaji dan melihat ulang ke kitab-kitab Imam Nawawi dan Imam Rafi’i jauh lebih baik dan lebih menambah pengembangan dalil.

Kini marilah perhatikan ringkasan bahasan kelompok nomor tiga ini:

1. Jika persoalan yang dicari adalah ketetapan hukum suatu persoalan menurut Madzhab Syafi’i maka kitab yang harus dijadikan rujukan adalah kitab Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj karya Ibnu Hajar al-Haitami dan kitab Nihayatul Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj karya Imam ar-Ramli. Merujuk juga kepada karya-karya Imam Nawawi dan Imam Rafi’i lebih bagus, tapi tidak pun tidak mengapa.

2. Jika hukum suatu persoalan yang dicari apabila terjadi pertentangan antara Imam al-Haitami dengan Imam ar-Ramli maka kitab yang harus dijadikan rujukan adalah kitab-kitab Tarjih, bila hal itu memungkinkan, kalau tidak, boleh diambil yang mana saja dengan memperhatikan mustaftinya (orang yang meminta fatwa).

3. Jika hukum suatu persoalan yang dicari apabila dalam kitab-kitab Imam al-Haitami dan ar-Ramli tidak membahas persoalan yang dicari atau bahasannya sangat singkat maka lihat dan bacalah karya-karya Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari.

4. Jika hukum suatu persoalan yang dicari apabila bahasannya juga kurang lengkap atau tidak dibahas sama sekali maka lihat dan bacalah kitab Mughnil Muhtaj Ila Ma’rifati Ma’ani Alfadh al-Minhaj karya al-Khatib asy-Syarbini.

5. Jika hukum suatu persoalan yang dicari apabila kurang lengkap juga atau bahasannya sedikit maka lihat dan bacalah kitab-kitab Hawasyi dari semua Syarah Minhajut Thalibin.
Karya-karya para ulama Syafi’iyyah generasi kedua Rating: 4.5 Diposkan Oleh: udan ,