9 Hadits Dhoif (Lemah)

1. “Apabila malam nisfu Sya’ban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya.
Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman:
“Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?
Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki?
Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya?
Adakah yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit fajar.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin ‘Abdillah bin Muhammad bin Abi Saburoh Al Qurosyi Al‘Aamiri Al Madani.

Ada yang menyebut namanya adalah ‘Abdullah, ada yang mengatakan pula Muhammad.
Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh memalsukan hadits, sebagaimana disebutkan dalam At Taqrib.
Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan, “Imam Al Bukhari dan ulama lainnya mendho’ifkannya”.
Anak Imam Ahmad, ‘Abdullah dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam Ahmad berkata,
“Dia adalah orang yang memalsukan hadits.”
An Nasai mengatakan, “Ia adalah perowi yang matruk (dituduh dusta)”.
[Berarti hadits ini di antara maudhu’ dan dho’if]

2. “Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya”
(HR. Ibnu Majah no. 1390).

Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata,“Hadits ini munqothi’ (terputus sanadnya).”
[Berarti hadits tersebut dho’if].

3.“Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam, beliau shalat dan memperlama sujud sampai aku menyangka bahwa beliau telah tiada.
Tatkala aku memperhatikan hal itu, aku bangkit sampai aku pun menggerakkan ibu jarinya.
Beliau pun bergerak dan kembali.
Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan merampungkan shalatnya, beliau mengatakan,
“Wahai ‘Aisyah (atau Wahai Humairo’), apakah kau sangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianatimu?”
Aku menjawab, “Tidak, demi Allah.

Wahai Rasulullah, akan tetapi aku sangka engkau telah tiada karena sujudmu yang begitu lama.”
Beliau berkata kembali, “Apakah engkau tahu malam apakah ini?”
Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Beliau berkata, “Malam ini adalah malam Nishfu Sya’ban.
Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla turun pada hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lantas Dia akan memberi ampunan ampunan pada orang yang meminta ampunan dan akan merahmati orang yang memohon rahmat, Dia akan menjauh dari orang yang pendendam”

Dikeluarkan oleh Al Baihaqi.
Ia katakan bahwa riwayat ini mursal jayyid.
Kemungkinan pula bahwa Al ‘Alaa’mengambilnya dari Makhul.
[Hadits mursal adalah hadits yang dho’if karena terputus sanadnya]

4. “Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban.
Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan”

Al Mundziri dalam At Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al Baihaqi.
Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al Asy’ari.
Al Bazzar dan Al Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.”
Demikian perkataan Al Mundziri.
Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan dia dinilai dho’if.”
[Hadits ini adalah hadits yang dho’if]

5. “Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi.
Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fithri”

Hadits ini disebutkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2157).
Al Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dhaif At Targhib (664), dan Silsilah Ahadits Dhaifah (43).
Yang benar, jika dari hadits ini terdapat orang yang meyakini bahwa puasa Ramadhan tidak diterima jika belum membayar zakat fithri, keyakinan ini salah, karena haditsnya dhaif.
Zakat fithri bukanlah syarat sah puasa Ramadhan, namun jika seseorang meninggalkannya ia mendapat dosa tersendiri.

6. “Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Jauraqani di Al Abathil (1351), oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131)
Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131), Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (1708).
Yang benar, lima hal tersebut bukanlah pembatal puasa, namun pembatal pahala puasa.

7. “Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan Ramadhan dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar”

Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (1300), Al Baihaqi di Syu’abul Iman (31441), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Adh Dhuafa (3318) Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (1152) Hadits ini didhaifkan oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhuat (2555), As Sakhawi dalam Maqasidul Hasanah (495), Al Albani dalam Dhaif At Targhib (654)

8. “Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya”
(Ibnul Jauzi, Al-Maudhu’at, 1247).

Hadits ini Palsu.
Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya.
Imam Daruquthni berkata: Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits.
(Periksa:Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, I246-247, Mizanul I’tidal III549, Lisanul Mizan V168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944).

9. “Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya” 

Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188.
Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari.

Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya.
Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits.
Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits.
(Periksa: Mizanul I’tidal IV : 90-91).

lihat juga:
Hadits Dhoif (lemah) 7
Hadits Dhoif (lemah) 6
9 Hadits Dhoif (Lemah) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: udan ,