Ajaran Tarekat Naqsabandiyah

Ajaran Tarekat Naqsabandiyah

Ajaran Tarekat Naqsabandiyah

1). Azas-Azas


Penganut Naqsyabandiyah mengenal sebelas asas Thariqah.
Delapan dari asas itu dirumuskan oleh ‘Abd al-Khaliq Ghuzdawani, sedangkan sisanya adalah penambahan oleh Baha’ al-Din Naqsyaband.

Asas-asas ini disebutkan satu per satu dalam banyak risalah, termasuk dalam dua kitab pegangan utama para penganut Khalidiyah, Jami al-’Ushul Fi al-’Auliya.

Kitab karya Ahmad Dhiya’ al-Din Gumusykhanawi itu dibawa pulang dari Makkah oleh tidak sedikit jamaah haji Indonesia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Kitab yang satu lagi, yaitu Tanwir al-Qulub oleh Muhammad Amin al-Kurdi dicetak ulang di Singapura dan di Surabaya, dan masih dipakai secara luas.
Uraian dalam karya-karya ini sebagian besar mirip dengan uraian Taj al-Din Zakarya (“Kakek” spiritual dari Yusuf Makassar) sebagaimana dikutip Trimingham.
Masing-masing asas dikenal dengan namanya dalam bahasa Parsi (bahasa para Khwajagan dan kebanyakan penganut Naqsyabandiyah India).

Asas-asasnya ‘Abd al-Khaliq [13] adalah:

1. Hush dar dam: “sadar sewaktu bernafas”.

Suatu latihan konsentrasi:sufi yang bersangkutan haruslah sadar setiap menarik nafas,menghembuskan nafas, dan ketika berhenti sebentar di antara keduanya.
Perhatian pada nafas dalam keadaan sadar akan Allah,memberikan kekuatan spiritual dan membawa orang lebih hampir kepada Allah; lupa atau kurang perhatian berarti kematian spiritual dan membawa orang jauh dari Allah (al-Kurdi).

2. Nazar bar qadam: “menjaga langkah”.

Sewaktu berjalan, sang murid  haruslah menjaga langkah-langkahnya, sewaktu duduk memandang lurus ke depan, demikianlah agar supaya tujuan-tujuan (ruhani) nya tidak dikacaukan oleh segala hal di sekelilingnya yang tidak relevan.

3. Safar dar watan: “melakukan perjalanan di tanah kelahirannya”.

Melakukan perjalanan batin, yakni meninggalkan segala bentuk ketidak sempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai makhluk yang mulia.
[Atau, dengan penafsiran lain: suatu perjalanan fisik, melintasi sekian negeri, untuk mencari mursyid yang sejati, kepada siapa seseorang sepenuhnya pasrah dan dialah yang akan menjadi perantaranya dengan Allah (Gumusykhanawi)].\

4. Khalwat dar anjuman: “sepi di tengah keramaian”.

Berbagai pengarang memberikan bermacam tafsiran, beberapa dekat pada konsep“innerweltliche Askese” dalam sosiologi agama Max Weber.
Khalwat bermakna menyepinya seorang pertapa, anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu.
Beberapa orang mengartikan asas ini sebagai“menyibukkan diri dengan terus menerus membaca dzikir tanpa memperhatikan hal-hal lainnya bahkan sewaktu berada di tengah keramaian orang”;

yang lain mengartikan sebagai perintah untuk turut serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat sementara pada waktu yang sama hatinya tetap terpaut kepada Allah saja dan selalu wara’.
Keterlibatan banyak kaum Naqsyabandiyah secara aktif dalam politik dilegitimasikan (dan mungkin dirangsang) dengan mengacu kepada asas ini.

5. Yad kard: “ingat”, “menyebut”.

Terus-menerus mengulangi nama Allah,dzikir tauhid (berisi formula la ilaha illallah), atau formula dzikir lainnya yang diberikan oleh guru seseorang, dalam hati atau dengan lisan.
Oleh sebab itu, bagi penganut Naqsyabandiyah, dzikir itu tidak dilakukan sebatas berjamaah ataupun sendirian sehabis shalat, tetapi harus terus-menerus, agar di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.

6. Baz gasyt: “kembali”, ” memperbarui”.

Demi mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang (melantur), sang murid harus membaca setelah dzikir tauhid atau ketika berhenti sebentar di antara dua nafas, formula ilahi anta maqsudi wa ridlaka mathlubi (Ya Tuhanku, Engkaulah tempatku memohon dan keridlaan-Mulah yang kuharapkan).

Sewaktu mengucapkan dzikir, arti dari kalimat ini haruslah senantiasa berada di hati seseorang, untuk mengarahkan perasaannya yang halus kepada Tuhan semata.

7. Nigah dasyt: “waspada”.

Yaitu menjaga pikiran dan perasaan terus-menerus sewaktu melakukan dzikir tauhid, untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Tuhan, dan untuk memlihara pikiran dan perilaku seseorang agar sesuai dengan makna kalimat tersebut.

Al-Kurdi mengutip seorang guru (anonim):
Kujaga hatiku selama sepuluh hari; kemudian hatiku menjagaku selama dua puluh tahun.”

8. Yad dasyt: “mengingat kembali”.

Penglihatan yang diberkahi:
secara langsung menangkap Zat Allah, yang berbeda dari sifat-sifat dan nama-namanya; mengalami bahwa segalanya berasal dari Allah Yang Esa dan beraneka ragam ciptaan terus berlanjut ke tak berhingga.
Penglihatan ini ternyata hanya mungkin dalam keadaan jadzbah: itulah derajat ruhani tertinggi yang bisa dicapai.

Asas-asas Tambahan dari Baha al-Din Naqsyabandi:

1. Wuquf-i zamani: “memeriksa penggunaan waktu seseorang”.

Mengamati secara teratur bagaimana seseorang menghabiskan waktunya.
(Al-Kurdi menyarankan agar ini dikerjakan setiap dua atau tiga jam).
Jika seseorang secara terus-menerus sadar dan tenggelam dalam dzikir, dan melakukan perbuatan terpuji, hendaklah berterimakasih kepada Allah, jika seseorang tidak ada perhatian atau lupa atau melakukan perbuatan berdosa, hendaklah ia meminta ampun kepada-Nya. 

2. Wuquf-i ‘adadi: “memeriksa hitungan dzikir seseorang”.

Dengan hati-hati beberapa kali seseorang mengulangi kalimat dzikir (tanpa pikirannya mengembara ke mana-mana).
Dzikir itu diucapkan dalam jumlah hitungan ganjil yang telah ditetapkan sebelumnya.

3. Wuquf-I qalbi: “menjaga hati tetap terkontrol”.

Dengan membayangkan hati seseorang (yang di dalamnya secara batin dzikir ditempatkan) berada di hadirat Allah, maka hati itu tidak sadar akan yang lain kecuali Allah, dan dengan demikian perhatian seseorang secara sempurna selaras dengan dzikir dan maknanya.

Taj al-Din menganjurkan untuk membayangkan gambar hati dengan nama Allah terukir di atasnya.

2). Zikir dan Wirid


Teknik dasar Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya, adalah dzikir yaitu berulang-ulang menyebut nama Tuhan ataupun menyatakan kalimat la ilaha illallah.
Tujuan latihan itu ialah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan yang lebih langsung dan permanen.

Pertama sekali, Tarekat Naqsyabandiyah membedakan dirinya dengan aliran lain dalam hal dzikir yang lazimnya adalah dzikir diam (khafi, “tersembunyi”, atau qalbi, ” dalam hati”), sebagai lawan dari dzikir keras (dhahri) yang lebih disukai tarekat-tarekat lain.

Kedua, jumlah hitungan dzikir yang mesti diamalkan lebih banyak pada Tarekat Naqsyabandiyah daripada kebanyakan tarekat lain.
Dzikir dapat dilakukan baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri.
Banyak penganut Naqsyabandiyah lebih sering melakukan dzikir secara sendiri-sendiri, tetapi mereka yang tinggal dekat seseorang syekh cenderung ikut serta secara teratur dalam pertemuan-pertemuan di mana dilakukan dzikir berjamaah.
Di banyak tempat pertemuan semacam itu dilakukan dua kali seminggu, pada malam Jum’at dan malam Selasa; di tempat lain dilaksanakan tengah hari sekali seminggu atau dalam selang waktu yang lebih lama lagi.

Tarekat Naqsabandiyah mempunyai dua macam zikir yaitu:

1. Dzikir ism al-dzat, “mengingat yang Haqiqi” dan dzikir tauhid, ”mengingat keesaan”.

Yang duluan terdiri dari pengucapan asma Allah berulang-ulang dalam hati, ribuan kali (dihitung dengan tasbih),sambil memusatkan perhatian kepada Tuhan semata.

2. Dzikir Tauhid (juga dzikir tahlil atau dzikir nafty wa itsbat)

terdiri atas bacaan perlahan disertai dengan pengaturan nafas,kalimat la ilaha illa llah, yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) melalui tubuh.
Bunyi la permulaan digambar dari daerah pusar terus ke hati sampai ke ubun-ubun.
Bunyi Ilaha turun ke kanan dan berhenti pada ujung bahu kanan.
Di situ, kata berikutnya, illa dimulai dengan turun melewati bidang dada, sampai ke jantung, dan kearah jantung inilah kata Allah di hujamkan dengan sekuat tenaga.

Orang membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah dan membara, memusnahkan segala kotoran.

Variasi lain yang diamalkan oleh para pengikut Naqsyabandiyah yang lebih tinggi tingkatannya adalah dzikir latha’if.
Dengan dzikir ini, orang memusatkan kesadarannya (dan membayangkan nama Allah itu bergetar dan memancarkan panas) berturut-turut pada tujuh titik halus pada tubuh.

7 Tingkatan zikir ini adalah :

1. Mukasyah.

Mula-mula zikir dengan nama Allah dalam hati sebanyak 5000 kali sehari semalam.
Kemudian melaporkan kepada syeikh untuk di naikkan zikirnya menjadi 6000 kali sehari-semalam.
Zikir 5000 dan 6000 itu dinamakan maqam pertama.

2. lathifah (jamak latha’if),

zikir ini antara 7000 hingga 11.000 kali sehari-semalam.
Terbagi kepada tujuh macam yaitu qalb (hati), ruh (jiwa), sirr (nurani terdalam), khafi (kedalaman tersembunyi),akhfa (kedalaman paling tersembunyi), dan nafs nathiqah (akal budi),.

Lathifah ketujuh, kull jasad sebetulnya tidak merupakan titik tetapi luasnya meliputi seluruh tubuh.
Bila seseorang telah mencapai tingkat dzikir yang sesuai dengan lathifah terakhir ini,seluruh tubuh akan bergetar dalam nama Tuhan.
Ternyata latha’if pun persis serupa dengan cakra dalam teori yoga.
Memang, titik-titik itu letaknya berbeda pada tubuh, tetapi peranan dalam psikologi dan teknik meditasi seluruhnya sama saja. 

3. Nafi’ Itsbat,

pada tahap ini, atas pertimbangan syeikh, diteruskan zikirnya dengan kalimat la ilaha illa Allah.
Merupakan maqam ke-tiga

4. Waqaf Qalbi

5. Ahadiah

6. Ma’iah

7. Tahlil,

Setelah samapat pada maqam terakhir ini maka sang murid tersebut akan memperolah gelar Khalifah, dengan ijazah dan berkewajiabn menyebarluaskan ajaran tarekat ini dan boleh Mendirikan suluk yang dipimpin oleh mursyid.

Ajaran tarekat naqsabandiyah


Ajaran dasar Tarekat Naqsyabandiyah pada umumnya mengacu kepada empat aspek pokok yaitu: syari’at, thariqat, hakikat dan ma’rifat.

Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah ini pada prinsipnya adalah cara-cara atau jalan yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin merasakan nikmatnya dekat dengan Allah.

Ajaran yang nampak kepermukaan dan memiliki tata aturan adalah suluk atau khalwat.

Suluk ialah mengasingkan diri dari keramaian atau ke tempat yang terpencil, guna melakukan zikir di bawah bimbingan seorang syekh atau khalifahnya selama waktu 10 hari atau 20 hari dan sempurnanya adalah 40 hari.
Tata cara bersuluk ditentukan oleh syekh antara lain; tidak boleh makan daging, ini berlaku setelah melewati masa suluk 20 hari.
Begitu juga dilarang bergaul dengan suami atau istri; makan dan minumnya diatur sedemikian rupa, kalau mungkin sesedikit mungkin.
Waktu dan semua pikirannya sepenuhnya diarahkan untuk berpikir yang telah ditentukan oleh syekh atau khalifah.
Sebelum suluk ada beberapa tahapan yaitu; Talqin dzikir atau bai’at dzikir, tawajjuh, rabithah, tawassul dan dzikir.

Talqin dzikir atau bai’at dzikir dimulai dengan mandi taubat, bertawajjuh dan melakukan rabithah dan tawassul yaitu melakukan kontak (hubungan) dengan guru dengan cara membayangkan wajah guru yang mentalqin (mengajari dzikir) ketika akan memulai dzikir.

Dzikir ada 5 tingkatan, murid belum boleh pindah tingkat tanpa ada izin dari guru.
Kelima tingkat itu adalah

  • (a) dzikir ism al-dzat,
  • (b) dzikr al-lata’if,
  • (c) dzikir naïf wa isbat,
  • (d) dzikir wuquf dan
  • (e) dzikir muraqabah.


Ajaran Asasnya:

1. Ismu Zat (Allah), Nafi Isbat (La ilaha Illa Allah)

2.2. Baz Ghast – kembali kepada Allah

3.3. Nigah Dasyat – menjaga, mengawasi, memelihara , bersungguh-sungguh.

1.4. Yad Dasyat
– mengingati Allah secara bersungguh
- Zikir memelihara hati dalam setiap nafas 

1. 5. Hosh Dar Dam – sadar dalam nafas ,berzikir secara sedar dalam nafas, empat ruang nafas,
-2 ruang nafas keluar masuk, dua ruangan antara nafas keluar masuk zikirnya adalah ALLAH

1. 6. Nazar Bam Qadar – Bila berjalan sentiasa memandang ke arah kakinya, jangan melebihkan pandang , duduk pandang ke hadapan, merendahkan pandangan, jangan toleh kiri dan kanan

1. 7. Safar dar watan – Bersiar-siar dalam kampong dirinya meningkatkan dirinya kepada sifat malaikat:

  • - Taubat
  • - Inabat
  • - Sabar
  • - Syukur
  • - Qana’ah
  • - Wara’
  • - Taqwa
  • - Taslim
  • - Tawakkal
  • - Redha


Perjalanan ada dua jenis:

a) Perjalanan luar:

dari satu tempat ke satu tempat mencari pembimbing Rohani

b) Perjalanan dalam:

tinggalkan segala tabiat buruk kepada adab tertib yang baik dan mengeluarkan segala isi hatinya dari keduniaan (Dalam hatinya akan muncul segala apa yang diperlukan olehnya dalam kehidupan ini dan kehidupan mereka yang berada di sampaingnya)

2. 8. Khalwat dar Anjuman Bersendirian dalam keramaian

Khalawt kabir dan jalwat (Apabila sudah mencapai fana menerusi zikir fikir dan semua dari luaran difanakan, pada waktu itu deria dalam bebas meneroka ke alam kebesaran dan keagungan kerajaan Allah SWT.)

3. 9. Wukuf Qalbi – Tumpuan hati dan hati pula tumpu pada Allah

10. Wuquf Abadi – memerhatikan bilangan ganjil dalam zikir naïf isbat

11. Wuquf zamani – Selepas solat lakukan beberapa menit sentiasa memerhatikan hati bertawajjuh kepada Allah swt

- Selang beberapa jam setiap jam semak semula kedaan hati , mempastikan hati sentiasa ingat kepada Allah

Cabang:


  • Yasawi – Kwajagan
  • Sidiqiyah – Saidina Abu Bakar as Siddiq 
  • Taifuriyah – Abu Yazid Bustami 
  • Khawajahganiyah – Abdul Khaliq Ghudjuwani
  • Naqsyabandiyah – Muhammad Bahauddin 
  • Ahrariyah – Ubaidullah Ahrar Ragamatullah
  • Mujaddidiyah – Syekh Ahmad Faruqi Sirhindi
  • Mazhariyah – Mirza Mashar Jan janan Syahid
  • Aliyah – Shah Abdullah Ghulam Ali Dehlawi 
  • Khalidiyah – Syekh Ziauuddin Muahammad Khalid Uthmani Kurdi
Ajaran Tarekat Naqsabandiyah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: udan ,