Hal-Hal Yang Disunnahkan Dalam Ibadah Qurban

Hal-Hal Yang Disunnahkan Dalam Ibadah Qurban

Sunnah pertama:

Menyembelih dengan tangan sendiri. 


Dalilnya hadits Anas yang telah kami sebutkan di awal risalah ini:

«ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا»

“Nabi shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam pernah berqurban dengan dua kambing domba berwarna belang dan bertanduk, beliau menyembelih dengan kedua tangan beliau sendiri, dengan menyebut nama Alloh dan bertakbir, dan meletakkan kaki beliau di atas sisi tubuh kedua kambing itu .
(muttafaq ‘alaih)

baca: Hal-Hal Yang Diwajibkan Dalam Ibadah Qurban

Sunnah kedua:

Membaca takbir setelah basmalah. 


Lafadznya:
(بسم الله والله أكبر )
Bismillah Wallohu Akbar.

Dalilnya hadits Anas di atas. Boleh juga mengucapkan:

اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ تَقَبَّلْ مِنِّيْ

berdasarkan hadits Jabir rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu dawud no.2795 dan Al-Baihaqi:9/281, dihasankan oleh syaikhuna Muhammad bin Hizam hafidzohulloh.
(lihat Fathul ‘Allam:5/522)

baca: Syarat-syarat Ibadah Qurban

Sunnah ketiga:

Meletakkan kaki kanan di bahu hewan yang akan disembelih setelah direbahkan di atas sisi sebelah kirinya, apabila hewan tersebut kambing atau sapi.


Dalilnya hadits Anas di atas.

Berkata imam An-Nawawi rohimahulloh :

“Hadits tersebut (yaitu hadits ‘Aisyah yang semakna dengan hadits Anas dengan beberapa tambahan) adalah dalil bahwa disunnahkan untuk merebahkan kambing di atas lambung sebelah kirinya ketika disembelih, dan tidak disembelih dalam keadaan berdiri atau berlutut, tapi dalam keadaan terbaring miring (kearah kiri) karena itu lebih mudah baginya.

Demikian disebutkan dalam hadits-hadits dan telah sepakat kaum muslimin akan hal ini.”
(lihat Syarh Shohih Muslim no.1967)

Berkata Syaikhuna Yahya Hafidzohulloh:

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam meletakkan kaki beliau di atas bahu (kambing yang beliau sembelih) tidak lain dengan tujuan supaya lebih kuat dalam memegangnya, sehingga kecil kemungkinan bagi kambing tersebut untuk menggerakkan kepalanya, karena yang demikian bisa menghambat proses penyembelihan atau menyakiti yang menyembelih.”
(lihat At-Tajliyah:50)

baca: PANDUAN LENGKAP IBADAH QURBAN

Sunnah keempat:

Menyembelih unta dengan nahr, dalam keadaan berdiri dan diikat kaki kirinya yang depan.


Yang dimaksud dengan nahr adalah menusuk urat nadi di pangkal lehernya dengan besi runcing atau pisau.

Dalilnya Firman Alloh Ta’ala:

فَاذْكُرُوا اسْمَ الله عَلَيْهَا صَوَافَّ

“Maka sebutlah oleh kalian nama Alloh ketika kalian menyembelihnya dalam keadaan dia berdiri (dan terikat).”
(Al Hajj:36)

Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma- pernah melewati seseorang yang sedang menderumkan untanya untuk disembelih, maka beliau berkata kepadanya:

«ابعثها قياما مقيدة سنة محمد صلى الله عليه وسلم»

“Berdirikanlah (dan sembelihlah) dalam keadaan unta itu berdiri dan terikat, itu adalah sunnah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam.
(muttafaq ‘alaih)

Berkata imam An-Nawawi rohimahulloh:

“Disunnahkan untuk menyembelih unta dalam keadaan berdiri dan terikat kaki kiri depannya.
Sedangkan sapi dan kambing, sunnahnya adalah disembelih dengan terbaring di atas lambung sebelah kiri, kaki kanan belakang dibiarkan terlepas sedangkan kaki-kaki lainnya semua diikat menjadi satu.”
(lihat Syarh Shohih Muslim no.1320) 

baca: Cacat Hewan Qurban

Sunnah kelima dan keenam:

Memakan sebagian dari daging qurban dan bershodaqoh dengannya.


Dalilnya firman Alloh Ta’ala:

فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ
“Kemudian apabila unta itu telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah dengannya orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.”
(Al-Hajj:36)

Dari Jabir rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata:

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam melarang dari (makan) daging qurban setelah tiga hari, kemudian lama setelah itu beliau berkata:

«كُلُوا، وَتَزَوَّدُوا، وَارُودَّخِا»

“Makanlah kalian (dari daging qurban) dan ambillah (sebagian) untuk bekal di perjalanan, dan simpanlah (sebagian yang lain).”
(HR Muslim:1972)

Dan dalam hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha disebutkan dengan lafadz:

«كُلُوا، وَادَّخِرُوا، وتَصَدَّقُوْا»

“Makan, simpan dan bersodaqohlah kalian (dari qurban kalian).”
(HR Muslim:1971)

Dan juga dalam hadits Jabir rodhiyallohu ‘anhu yang panjang, tentang sifat haji Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam disebutkan bahwa setelah beliau selesai menyembelih unta-unta beliau:

ثُمَّ أَمَرَ مِنْ كُلِّ بَدَنَةٍ بِبَضْعَةٍ، فَجُعِلَتْ فِي قِدْرٍ، فَطُبِخَتْ، فَأَكَلَا مِنْ لَحْمِهَا وَشَرِبَا مِنْ مَرَقِهَا. 

“kemudian beliau memerintahkan untuk mengambil dari setiap unta tersebut sepotong daging dan dikumpulkan di dalam satu kuali, setelah matang beliau makan sebagian dagingnya dan minum sebagian dari kuahnya.”
(HR Muslim:1218)

Imam An-Nawawi rohimahulloh berkata:

“Makan dari setiap hewan qurban hukumnya sunnah, akan tetapi karena untuk makan dari seratus unta tidak memungkinkan, maka beliau kumpulkan dalam satu kuali, supaya beliau bisa meminum kuahnya, yang mana didalamnya terkandung sari-sari daging dari semua unta tersebut, dan beliau makan dari sebagian daging itu sekedarnya.

Para ulama sepakat bahwa makan dari hadyi tathowwu’ (qurban yang disembelih di tanah suci yang tidak wajib) dan makan dari hewan qurban yang lain hukumnya sunnah bukan wajib.”
(Syarh shohih Muslim no.1218)

baca: Berkurban dengan domba jadzaah?

Sunnah ketujuh:

Menggemukkan hewan qurban.


Imam Al-Bukhori rohimahulloh meriwayatkan atsar dari Abi Umamah bin Sahl bin Hunaif rodhiyallohu ‘anhu secara muallaq, bahwa beliau berkata:

«كنا نسمن الأضحية بالمدينة، وكان المسلمون يسمنون»

“Kami dahulu menggemukkan hewan qurban di Madinah, begitu pula kaum muslimin”.

Berkata ibnu Qudamah rohimahulloh:

“Dan disunnahkan untuk menggemukkan hewan qurban, berdasarkan firman Alloh Ta’ala:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ الله فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ 

“Demikianlah (perintah Alloh), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Alloh, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.”
(Al-Hajj:32)

Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu berkata:

“Pengagungan Syiar Alloh dalam ibadah qurban adalah dengan menggemukkan hewan qurban, membesarkan dan membaguskan badannya.”
Yang demikian itu akan lebih memperbanyak pahala dan menambah manfaatnya.”
(lihat Al Mughni:9/439)

baca: Umur Hewan Qurban?

Sunnah kedelapan:

Menyembelih di hari ‘Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah.


Dalilnya adalah hadits Al-Baro bin ‘Azib yang telah kami sebutkan di awal risalah ini bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata:

“Sesungguhnya yang kita mulai pertama kali pada hari (‘Idul Adha) ini adalah sholat, kemudian kita pulang lalu menyembelih qurban.”

Diperbolehkan menyembelih qurban pada tiga hari tasyriq (tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah), sebagaimana kami jelaskan di muka, akan tetapi menyembelih pada hari ‘id lebih afdhol, karena Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyembelih qurbannya pada hari itu, dan kita tidak mengetahui adanya dalil yang menyebutkan bahwa beliau menyembelih qurban pada selain hari tersebut, dan Alloh tidak memilihkan sesuatu untuk NabiNya kecuali yang paling afdhol.
(lihat At-Tajliyah:55)

baca juga: Berqurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal?
Hal-Hal Yang Disunnahkan Dalam Ibadah Qurban Rating: 4.5 Diposkan Oleh: udan ,