kumpulan hadits dhoif (lemah), maudhu (palsu) dan mungkar

kumpulan hadits dhoif (lemah), maudhu (palsu) dan mungkar yang  sangat populer di Indonesia


108: Nu’aim bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku, pent) di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram…”.

Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?
Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian.
Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, kerana barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam kitab Al-Fitan I228, No.638, dan Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, No.39627).

Hadits ini derajatnya palsu (maudhu’), karena di dalam sanadnya terdapat beberapa perawi hadits yang pendusta dan bermasalah sebagaimana diperbincangkan oleh para ulama hadits.

baca: 2 Hadits Dhoif (lemah)

109: " Seandainya salah seorang diantara kamu mempercayai ( meski ) terhadap sebongkah batu, niscaya akan bermanfaat baginya" hadits maudhu.

110 : " Cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman " hadits maudhu.

111: Abdurrazzaq meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada shahabat Jabir bin `Abdilla al-Anshariy radhiyallahu`anhu, dia mengatakan:

“Saya bertanya: ‘Wahai Rasulullah, Demi bapak dan ibu saya sebagai tebusan bagimu, kabarkan kepada saya tentang makhluk yang pertama Allah ciptakan sebelum Dia menciptakan selainnya.’
Beliau menjawab: ‘Wahai Jabir, makhluk yang pertama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu yang Dia ciptakan dari cahaya-Nya.
Kemudian Dia menjadikan cahaya tersebut berputar dengan kuat sesuai dengan kehendak-Nya.
Belum ada saat itu lembaran, pena, surga, neraka, malaikat, nabi, langit, bumi, matahari, bulan, jin, dan juga manusia.
Ketika Allah hendak menciptakan, Dia membagi cahaya tersebut menjadi 4 bagian.
Kemudian, Allah menciptakan pena dari bagian cahaya yang pertama; lembaran dari bagian cahaya yang kedua; dan `Arsy dari bagian cahaya yang ketiga. Selanjutnya, Allah membagi bagian cahaya yang keempat menjadi 4 bagian lagi.
Lalu, Allah menciptakan (malaikat) penopang `Arsy dari bagian cahaya yang pertama; Kursi dari bagian cahaya yang kedua; dan malaikat yang lainnya dari bagian cahaya yang ketiga. …[di akhir hadits beliau mengatakan] Beginilah permulaan penciptaan Nabimu, ya Jabir”

Syaikh Dr. Shadiq Muhammad Ibrahim (salah seorang yang telah melakukan penelitian terhadap hadits ini) mengatakan: “Semua kitab-kitab sufi yang terdapat di dalamnya hadits ini, tidak ada yang menyebutkan sanad dari hadits tersebut.
Mereka hanya menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh `Aburrazzaq.
Saya telah mencari hadits tersebut dalam kitab-kitab yang ditulis oleh `Abdurrazzaq dan saya tidak menemukan hadits tersebut.”`
Abdullah al-Ghamariy (seorang pakar hadits) mengatakan:
“Hadits tersebut merupakan hadits maudhu` (palsu). … Bersamaan dengan itu, hadits tersebut juga tidak terdapat dalam kitab Mushannaf `Abdurrazzaq, Tafsir-nya, dan tidak juga dalam Jami`-nya. … Maka shahabat Jabir bin` Abdullah radhiyallahu `anhu (perawi hadits menurut mereka) berlepas diri dari menyampaikan hadits tersebut.
Demikian juga `Abdurrazzaq, dia tidak pernah menulis hadits tersebut (dalam kitabnya).
Orang yang pertama menyampaikan hadits ini adalah Ibnu Arabi.
Saya tidak tahu dari mana dia mendapatkannya.”

baca: 9 Hadits Dhoif (Lemah)

112: “Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.”
Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?”
Beliau bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu”

Menurut Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (26) hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Az Zuhd.
Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Takhrijul Kasyaf (4114) juga mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam Al Kuna.
Hadits ini adalah hadits palsu.

Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam di Majmu Fatawa (11197), juga oleh Al Mulla Ali Al Qari dalam Al Asrar Al Marfu’ah (211).
Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (2460) mengatakan hadits ini Munkar.

baca: Hadits Dhoif (lemah) 7

113: Dari Malik Ad Dar -beliau adalah bendahara Umar- dia berkata,
“Pada zaman pemerintahan Umar manusia ditimpa kemarau, maka seorang lelaki mendatangi kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkata,
“Wahai Rasulullah, mohonlah kepada Allah untuk menurunkan hujan pada umatmu, karena sesungguhnya mereka telah binasa”, kemudian orang tersebut bermimpi dan dikatakan kepadanya:
“Pergilah ke Umar……”
(Disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 2397. Al Allamah Al Albani berkata dalam At Tawassul hal. 131, Atsar ini dha’if dikarenakan Malik Ad Daar itu majhul).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (Qo’idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah hal. 19-20),
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi sebelum beliau tidak pernah mensyariatkan untuk berdoa kepada malaikat, para nabi, dan orang shalih serta meminta syafaat dengan perantaraan mereka, baik setelah kematian mereka dan juga tatkala mereka gaib (yakni mereka tidak berada di hadapan kita walaupun masih hidup -pent).
Maka seseorang tidak boleh mengatakan, “Wahai malaikat Allah syafa’atilah aku di sisi Allah, mintalah kepada Allah agar menolong kami dan memberi rezeki kepada kami atau menunjuki kami.”

Dan demikian pula tidak boleh dia mengatakan kepada para nabi dan orang shalih yang telah mati, “Wahai nabi Allah, wahai wali Allah, berdoalah kepada Allah untukku, mintalah kepada Allah agar memaafkanku.”

Juga seseorang tidak boleh mengucapkan, “Aku adukan kepadamu dosa-dosaku atau kekurangan rezekiku atau penguasaan musuh atasku atau aku adukan kepadamu si Fulan yang telah menzhalimiku.”

Tidak boleh pula dia mengatakan, “Aku adalah tamumu, aku adalah tetanggamu, atau engkau melindungi setiap orang yang meminta perlindungan padamu.”

baca: Hadits Dhoif (lemah) 6

114: Dari Abul Jauza’ Aus bin Abdillah, dia berkata,
“Penduduk Madinah pernah mengalami kemarau yang sangat dahsyat, kemudian mereka mengadu kepada Aisyah, maka dia berkata:
“Pergilah ke kubur nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian buatlah lubang yang menghadap ke langit sehingga antara kubur dan langit tidak terhalang oleh atap.”
Mereka berkata, “Mari kita melakukannya.”
Maka hujan lebat mengguyur kami, sehingga rumput tumbuh lebat dan unta-unta menjadi gemuk dan menghasilkan lemak.
Maka saat itu disebut Tahun Limpahan”
(Dikeluarkan oleh Ad Darimi (156) nomor 92. Al Allamah Al Albani berkata dalam At Tawassul hal 139: “Dan (atsar)

ini sanad(nya) dha’if tidak dapat digunakan sebagai hujjah.

baca: Hadits Dhoif (lemah) 5

115: Dari Ali bin Maimun, dia berkata, Aku mendengar Asy Syafi’i (Imam Syafi’i -pent) berkata,
“Sungguh aku akan bertabarruk dengan Abu Hanifah, dan aku mendatangi kuburnya di setiap hari -yakni beliau berziarah ke kuburnya-.
Maka jika aku memiliki hajat, aku melakukan shalat dua raka’at dan aku mendatangi kuburannya kemudian aku memohon kepada Allah ta’ala agar mengabulkan hajatku di samping kuburannya, dan tak lama berselang hajatku pun terkabul”

Hikayat ini diriwayatkan oleh Al Khatib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (1123) dari jalur Umar bin Ishaq bin Ibrahim, dia berkata:
“Ali bin Maimun memberitakan kepada kami, dia berkata, ‘Aku mendengar Asy Syafi’i mengatakan hal itu.’”
(yakni riwayat di atas -pent).

Al ‘Allamah Al Albani berkata dalam Silsilah Ahadits Adhdha’ifah wa Al Maudhu’at.

baca: Hadits Dhoif (lemah) 4

131: “Riwayat ini dha’if bahkan (riwayat yang) bathil.”
Ibnul Qoyyim berkata dalam Ighatsatul Lahfan 1246, “Hikayat yang dinukil dari Imam Syafi’i -bahwa beliau berdoa di samping kuburan Abu Hanifah- merupakan suatu kedustaan yang nyata.”

Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Albani berkata dalam Silsilah Ahadits Adhdha’ifah wa Al Maudhu’at (131) hadits nomor 22, “Riwayat ini dha’if (lemah), bahkan bathil.

Karena sesungguhnya Umar bin Ishaq bin Ibrahim tidak dikenal, dan tidak pernah disebut dalam kitab-kitab yang membahas tentang perawi hadits sedikit pun.
Jika yang dimaksud Umar bin Ishaq adalah Amru bin Ishaq bin Ibrahim bin Hamid As Sakan Abu Muhammad At Tunisi, maka Al Khatib telah menyebutkan biografinya dan menyebutkan bahwasanya dia adalah penduduk Bukhara yang mendatangi Baghdad tahun 341 Hijriah dalam rangka hendak berhaji, dan beliau (Al Khatib) tidak menyebutkan jarh (celaan) dan ta’dil (rekomendasi) atas orang ini dalam kitabnya, maka orang ini statusnya majhul hal.

Mustahil jika yang dimaksudkan adalah orang ini, karena Syaikhnya yakni Ali bin Maimun wafat pada tahun 247 Hijriah -berdasarkan pendapat yang paling jauh-, sehingga kematian keduanya berjarak sekitar 100 tahun, maka mustahil dia menjumpai Syaikhnya tersebut.
Kesimpulannya, riwayat ini dha’if dan tidak ada bukti yang menunjukkan keshahihannya.”

116: Dari Anas bin Malik, Ketika Fatimah bintu Asad bin Hasyim ibunda Ali radhiallahu ‘anhu wafat, maka dia mengajak Usamah bin Zaid, Abu Musa Al Anshari, Umar bin Khattab dan seorang budak hitam untuk menggali liang kubur.
Setelah selesai,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dan berbaring di dalamnya, kemudian beliau berkata:

“Allah adalah Zat yang menghidupkan dan mematikan.
Dia Maha Hidup dan tidak mati, ampunilah bibiku Fatimah binti Asad.
Ajarkanlah padanya hujjahnya dan luaskanlah tempat tinggalnya yang baru dengan hak nabi-Mu dan hak para nabi sebelumku, karena sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Penyayang”

Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Albani berkata, “Hadits ini tidak mengandung targhib (anjuran untuk melakukan suatu amalan yang ditetapkan syariat) dan tidak pula menjelaskan keutamaan amalan yang telah ditetapkan dalam syariat.
Sesungguhnya hadits ini hanya memberitahukan permasalahan seputar boleh atau tidak boleh, dan seandainya hadits ini shahih, maka isinya menetapkan suatu hukum syar’i.

Sedangkan kalian (para penyanggah-pent) menjadikannya sebagai salah satu dalil bolehnya tawassul yang diperselisihkan ini.
Maka apabila kalian telah menerima kedha’ifan hadits ini, maka kalian tidak boleh berdalil dengannya.
Aku tidak bisa membayangkan ada seorang berakal yang akan mendukung kalian untuk memasukkan hadits ini ke dalam bab targhib dan tarhib, karena hal ini adalah sikap tidak mau tunduk kepada kebenaran, mengatakan sesuatu yang tidak pernah dikemukakan oleh seluruh orang yang berakal sehat.”
(Lihat At Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu hal. 110 dan Silsilah Ahadits Addha’ifah wal Maudlu’at (132) hadits nomor 23.
Beliau telah menjelaskan kelemahan hadits ini dan menjelaskan alasannya dengan rinci, maka merujuklah ke buku tersebut).

baca juga: Hadits Dhoif (lemah) 3

nasehat

agama bukanlah dibangun diatas logika,adat tradisi kebiasaan nenek moyang, pendapat kebanyakan manusia, pendapat guru guru syaikh habib ustad atau kyai, pendapat kelompok ormas, atau mengikuti hawa nafsu semata, tetapi agama dibangun di atas dalil ( Alqur'an dan Hadits ).

setiap amalan ibadah dalam Islam itu dinilai shahih, bila dicocokkan mengikuti seperti yang Rasul dan para sahabat lakukan, jadi bukan dicocokkan dengan ajaran guru kyai ustad habib dan syaikh.

:"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (rosul), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu".
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 'Ali `Imran [3] : 132).

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Aku wasiatkan kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak) dari habasyah.
Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup setelah aku (wafat), maka akan menyaksikan perselisihan yang banyak.
Maka berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Roosyidiin yang mendapat petunjuk.
Peganglah kuat-kuat dan gigitlah keduanya dengan gigi gerahammu.
Dan jauhilah olehmu urusan yang diada- adakan, karena sesungguhnya setiap urusan yang diada-adakan itu bid‘ah dan setiap bid‘ah itu sesat."
(HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Shahih) "
kumpulan hadits dhoif (lemah), maudhu (palsu) dan mungkar Rating: 4.5 Diposkan Oleh: udan ,