Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke 11-15

Risalah ke 11

Ia bertutur:

Apabila timbul di dalam benakmu keinginan untuk kawin, padahal kau fakir dan miskin, dan kau tak mampu memenuhinya, maka bersabarlah dan berharaplah senantiasa akan kemudahan dari-Nya, yang membuatmu berkeinginan seperti itu, atau yang mendapati keinginan semacam itu di dalam hatimu, niscaya Ia akan menolongmu, (entah dengan menghilangkan keinginan itu darimu) atau dengan memudahkanmu menanggung beban hidupmu itu, dengan mengaruniaimu kecukupan, mencerahkanmu dan memudahkanmu di dunia dan akhirat.

Lalu Allah akan menyebutmu sabar dan mau bersyukur, karena kesabaranmu dan keridhaanmu atas ketentuan-Nya.
Maka ditingkatkan-Nya kesucian dan kekuatanmu.
Dan Allah berjanji untuk senantiasa menambah karunia-Nya atas orang-orang yang bersyukur, sebagaimana firman-Nya :
Lenyapnya diri dari manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan jiwa dari segala harapan mereka.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

Maka bersabarlah, tentanglah hawa nafsumu, dan berpegang teguhlah pada perintah-perintah-Nya.
Ridhalah atas takdir Yang Maha Kuasa, dan berharaplah akan ridha dan karunia-Nya.

Sungguh Allah sendiri telah berfirman:

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan menerima ganjaran mereka tanpa batas.”
(QS. Az Zumar : 10)

Risalah ke 12

baca: Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke 6-10

Ia bertutur:

Apabila Allah Yang Maha Agung melimpahimu kekayaan, dan kekayaan itu memalingkanmu dari kepatuhan kepadaNya, niscaya Ia memisahkanmu dari Nya di dunia dan di akhirat.
Mungkin juga Ia mencabut karuniaNya darimu, menjadikanmu papa dan melarat, sebagai hukuman atas kepalinganmu dari Sang Pemberi, dan keterpesonaanmu akan karuniaNya.

Tetapi, bila kau senantiasa patuh kepadaNya, dan tak terpengaruh oleh kekayaan itu, Allah akan menambahkan karuniaNya kepadamu, dan sedikit pun takkan menguranginya.

Harta adalah abdimu, dan kau adalah abdi Sang Raja.
Karena itu, hidup di dunia ini berada di bawah kasih sayangNya, dan hidup di akhirat terhormat dan abadi, bersama-sama para shiddiq, para syahid, dan para shaleh.

Risalah ke 13

baca: Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke 1-5

Ia bertutur:

Jangan berupaya menjarah sesuatu rahmat, dan jangan pula berupaya menangkis datangnya sesuatu bencana.
Rahmat akan datang kepadamu jika ia sudah ditakdirkan untukkmu, baik kau suka atau pun tak suka.

Bencana akan menimpamu, jika itu takdir bagimu, entah suka atau tak suka, dan kau coba menangkisnya dengan do’a, atau menghadapinya dengan kesabaran dan keteguhan hati demi mendapatkan keridhaanNya.

Berpasrahlah dalam segala hal, agar Ia bertindak malalui dirimu.
Jika itu suatu rahmat, bersyukurlah.
Dan jika itu suatu bencana, bersabarlah, atau coba tumbuhkanlah kesabaran dan keterikatan dengan Allah dan keridhaanNya.
Atau coba rasakanlah rahmatNya di dalam bencana ini, atau menyatulah sedapat mungkin denganNya lewat hal ini, lewat semua sarana spiritual yang kau miliki.
Di dalamnya, kau akan digerakkan dari satu maqam ke maqam yang lain dalam perjalananmu menuju Allah, yaitu dalam upaya menaati dan berakrab dengan perintah sehingga kau dapat berjumpa dengan yang Maha Besar.

Lalu, kau ditempatkan di maqam yang sebelumnya telah dicapai oleh para Shiddiq, para syahid dan para shaleh.

Maknanya, kau mencapai keakraban sedemikian rupa dengan Allah hingga memungkinkanmu melihat maqam orang-orang yang telah mendahuluimu menghadap Sang Raja, Penguasa Kerajaan yang Agung, dan orang-orang yang dekat denganNya dan telah menerima segala kenyamanan, kesenangan, keamanan, kehormatan dan rahmat dariNya. 
Biarkanlah bencana itu datang, dan jangan rintangi jalannya.
Jangan menghadapinya dengan doa.
Jangan merasa gundah atas kedatangan dan penghampirannya, karena panas apinya tak lebih mengerikan daripada kobaran api neraka.

Mengenai manusia terbaik, dan yang terbaik di atas bumi, dan di kolong langit ini, Rasulullah Muhammad saw, diriwayatkan, bersabda:

“Sungguh, api neraka akan berseru kepada orang-orang beriman ‘Wahai mu’min, cepatlah berlalu karena cahayamu mematikan nyala apiku’ ”

Nah, bukanlah nur seorang mu’min yang mematikan nyala api neraka itu, adalah cahaya yang kita temui padanya di dunia ini, dan yang membedakan yang patuh kepada Allah dan yang kafir ?
Cahaya inilah yang memadamkan kobaran bencana.
Sedang kesejukan kesabaranmu dan kepatuhanmu kepada Allahlah yang memadamkan panas yang bakal menimpamu.

Jadi, bencana yang menimpamu bukanlah untuk menghancurkanmu, tapi mencobaimu, mengukuhkan imanmu, menguatkan pilar-pilar keyakinanmu, dan memberimu secara rohani, kabar baik dariNya tentang kehendakNya atasmu.

Allah berfirman :

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihat dan bersabar di antaramu; dan agar kami nyatakan hal ihwal kalian.
(QS: 47:31).

Nah, bila keimananmu dengan Allah terbukti dan sedemikian sesuai dengan ketentuanNya dan hal ini berkat pertolonganNya maka kau meski tetap bersabar, serasi denganNya dan penuh taat kepadaNya.
Jangan biarkan segala pelanggaran terhadap perintah dan laranganNya, baik oleh dirimu sendiri maupun orang lain.
Bila datang perintahNya, dengarkanlah dengan seksama dan segeralah melaksanakannya.
Bertindaklah, jangan diam, jangan pasif di hadapan takdir Yang Maha Kuasa, tapi curahkanlah kekuatanmu dan berupayahlah memenuhi perintah itu.

Jika kau tak mampu melaksanakan perintah itu, jangan membuang-buang waktu, segeralah kembali kepada Allah.
Berlindunglah kepadaNYa, rendahkanlah dirimu di hadapanNYa, mohonlah ampunanNya.
Coba carilah sebab ketakmampuanmu melaksanakan perintahNya, dan untuk terjauhkan dari berbangga atas kepatuhanmu kepadaNya.
Mungkin ketakmampuanmu ini disebabkan oleh prasangka-prasangka buruk, atau oleh sikap tak layakmu dalam kepatuhanmu kepadaNya atau oleh kebanggaanmu, atau oleh kebertumpuanmu pada daya upayamu sendiri, atau oleh perbuatanmu sendiri menyekutukanNya dengan dirimu sendiri atau dengan makhlukNya.

Akibatnya, Ia menjauhkanmu dari pintuNya dan menolak kepatuhanmu kepadaNYa.
Lalu Ia tutup pinti pertolongan bagimu, Ia palingkan kemurahan wajahNya dari dirimu.
Ia menjadi marah kepadaMu, dan menjauhkan diri darimu.
DibiarkanNya, kau sibuk dengan cobaan-cobaanmu di dunia ini, dengan kedirianmu.
Tak tahukah kau, bahwa hal ini membuatmu lupa akan Tuhanmu, dan menutupimu dari penglihatanNya, Ia yang telah menciptakanmu, memeliharamu, dan mengaruniaimu sedemikian banyak ni’mat.

Waspadalah agar segala sesuatu selain Allah ini tak memisahkanmu dariNya.
Maka, jangan mengutamakan sesuatu selain Allah, sebab Dia menciptakanmu semata-mata untuk beribadah kepadaNya.
Maka janganlah berlaku aniaya terhadap diri sendiri, sehingga tersibukkan oleh segala yang bukan perintahNya.
Yang demikian itu, memjerumuskanmu ke dalam api neraka yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan, dan kau pasti menyesal, tapi penyesalanmu tiada guna dan kau berdalih, tapi tiada dalih yang diterima.
Kau menangis minta pertolongan, tapi takkan ada pertolongan.
Kau mencoba menyenangkan Allah, tapi sia-sia.
Kau minta dikembalikan di dunia, untuk mempersiapkan bekal dan menebus kesalahan, tapi sia-sia.

Kasihanilah dirimu, dan gunakanlah segala sarana untuk mengabdi kepada Tuhanmu, seperti akalmu, keimananmu, kecerahan ruhanimu, dan ilmu yang dikaruniakan kepadamu.
Dan berupayalah menerangi lingkunganmu dengan cahaya ini semua di tengah-tengah kehampaan tujuan.
Pegang teguhlah semua perintah dan larangan Allah, dan lewatilah, di bawah petunjuk keduanya, jalan menuju Tuhanmu, Ia yang telah menciptakan dan menumbuhkanmu.

Jangan kufur ni’mat kepadaNya, Ia yang telah menciptakanmu dari debu, dan dari setetes mani dijadikanNya kau seorang manusia sempurna.
Janganlah menghendaki yang bukan perintahNya, dan jangan menganggap sesuatu itu buruk, bila tak tegas-tegas diharamkanNya.
Bila kau serasi dengan perintahNya, seluruh makhluk hormat kepadamu.
Bila kau menghinakan segala yang dilarang oleh Allah, maka segala yang tak nampak lari menjauhimu, di manapun kau berada.

Allah telah berfirman:

”Wahai bani Adam, Akulah Allah, tak ada illah (sesembahan) selain Aku.
Bila Aku katakan ‘Jadilah’, maka ia akan maujud.
Patuhilah Aku, maka akan Kusempurnakan kamu, sehingga bila kau berkata ‘Jadilah’, ia akan maujud. ”

“Wahai bumi, hormatilah orang-orang yang memujiku, dan susahkanlah orang-orang yang memujamu.”

Maka, bila datang sesuatu yang diharamkanNya, berlakulah bagai seorang yang lunglai sendi-sendi tulangnya, yang kehilangan kekuatan jasmaninya, yang remuk hatinya, yang tak bergairah, yang terlepas dari pesona-pesona duniawi dan dari segala nafsu hewani, bak pelataran gelap nantak terurus, bak gedung tak berpenghuni yang atapnya sudah jebol, yang didalamnya tak ada jejak-jejak kemaujudan hewani.

Berlakulah bagai seorang tuli sejak lahir, bagai seorang buta sejak lahir, seakan bibirmu penuh bengkak nan ngeri, seakan lidahmu bisu dan kasar, seakan gigimu bernanah penuh nyeri dan tanggal, seakan kedua tanganmu lumpuh dan tak kuasa memegang sesuatupun, seakan kakimu gemetar dan penuh luka, seakan kemaluanmu lumpuh seolah perutmu kekenyangan, seakan akalmu gila, dan tubuhmu seakan mayat tengah diangkut ke kubur.

Maka, kau mesti segera mendengarkan dan menunaikan semua perintahNya, sebagaimana kau mesti enggan tak bergairah terhadap semua yang diharamkanNya, dan berlaku bagai mayat, pasrahlah terhadap ketentuanNya.

Nah, reguklah sirup ini, ambillah obat ini, dan aturlah makanmu, agar kau terbebas dari kedirian, sembuhkanlah dirimu dari segala penyakit dosa, dan lepaskanlah dirimu dari belenggu nafsu, dan dengan demikian terperbaruilah dirimu menjadi pribadi yang ruhaninya sehat dan sempurna.

Risalah ke 14

baca: Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke-50-54

Ia bertutur:

Wahai budak nafsu!
Jangan mengkalim bagi dirimu sendiri maqam para rabbani.
Kau adalah pemuja nafsu, sedang mereka adalah penyembah Allah.
Dambaanmu adalah dunia, sedang dambaan mereka adalah akhirat.
Matamu hanya melihat dunia ini, sedang mata mereka melihat Tuhan bumi dan langit.
Kau pencinta ciptaan, sedang mereka pencinta Allah.
Hatimu terpaut pada yang di bumi, sedang hati mereka terpaut pada Tuhan Arsy.
Kau adalah korban segala yang kau lihat, sedang mereka tak melihat segala yang kau lihat.
Mereka hanya melihat sang Pencipta segalanya, yang tak mungkin terlihat (oleh mata-mata ini).

Orang-orang ini meraih tujuan hidup mereka, dan keselamatan mereka terjamin, sedang kau tetap menjadi korban nafsu duniawi.

Orang-orang ini lepas dari ciptaan, nafsu duniawi dan kedirian.
Dengan demikian, mereka melicinkan jalan bagi penghampiran mereka kepada Tuhan Yang Maha besar, yang menganugerahi mereka kekuatan untuk meraih kemaujudan yang baik, kepatuhan kepada Tuhan.

Inilah ridha Allah, yang dianugerahkan-Nya kepada yang dikehendaki-Nya.
Mereka jadikan taat dan pemujaan sebagai kewajiban mereka, dan kukuh dalam keduanya dengan bantuan-Nya tanpa mengalami kesulitan.
Maka kepatuhan, dapat dikatakan, menjadi jia dan keseharian mereka.
Akhirnya, dunia menjadi rahmat dan menyenangkan bagi mereka, bagai surga laiknya.

Sebab, bila mereka melihat sesuatu, mereka melihat dibalik sesuatu itu penciptaan-Nya.
Maka orang-orang ini memberi daya kepada bumi dan lelangit dan menyenangkan bagi yang mati dan yang hidup.
Karena Tuhan mereka telah menjadikan mereka pasak bumi.
Mereka bagai gunung-gunung yang berdiri kukuh.
Orang-orang ini adalah yang terbaik di anatara yang telah diciptakan dan ditebarkan-Nya di dunia ini.
Semoga kedamaian dari Allah melimpahi mereka, juga salam dan rahmat-Nya, selama bumi dan lelangit maujud.

Risalah ke 15

baca: Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke-55-58

Ia bertutur:

Aku melihat dalam mimpi seolah aku berada di suatu tempat seperti masjid, yang di dalamnya ada beberapa orang menjauh dari manusia-manusia lain.

Aku berkata kepada diriku:
“Jika si anu hadir di sini, tentu ia bisa mendisiplinkan orang-orang ini, dan memberi mereka petunjuk yang benar, dan seterusnya”, lalu terbayang olehku seorang yang saleh tengah dikerumuni mereka, dan salah seorang dari mereka bertanya:
“Kenapa Anda diam ?”
Jawabku: “Jika kalian berkenan, aku akan bicara”.
Lanjutku, “Jika kalian menjauh dari orang-orang demi kebenaran, jangan meminta sesuatu pun dengan lidah kepada manusia.
Jika kau berhenti meminta secara demikian, maka jangan meminta sesuatu pun kepada mereka, hatta di dalam benak, sebab meminta di dalam benak sama saja dengan meminta dengan lidah.
Dan ketahuilah, setiap hari Allah selalu kuasa mungubah, mengganti, meninggikan dan merendahkan (orang-orang).

Ia naikkan derajat beberapa orang.
Lalu, mereka yang telah dinaikkan-Nya ke derajat tertinggi, diancam-Nya bahwa Ia bisa menjatuhkan mereka ke derajat terendah, dan diberi-Nya mereka harapan bahwa Ia akan memelihara mereka di tempat terpuji itu.
Sedang mereka yang telah dilemparkan-Nya ke derajat terendah, diancam-Nya dengan kehinaan nan abadi, dan diberi-Nya mereka harapan dinaikkan ke derajat tertinggi.”
Kemudian aku terjaga dari mimpiku.

baca juga: Niat Sholat Tarawih dan Witir Lengkap dengan Bacaan Doa 11 Rakaat
Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke 11-15 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: udan ,