Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke 16-20

Risalah Ke-16

Ia bertutur:

Tak ada yang menjauhkanmu dari ridha dan rahmat-Nya, kecuali ketergantunganmu kepada manusia, sarana-sarana keterampilan, akal dan perolehan.
Manusia termasuk pengalang bagimu dalam mencari rizki yang sesuai dengan sunnah Rasul, semisal bekerja mencari nafkah.

Selama bergantung pada manusia, selama itu pula kau mengharapkan kesudian dan uluran tangan mereka, bahkan kau meminta dengan beriba hati di depan pintu rumah mereka.
Perbuatan seperti ini termasuk syirik, karena kau menyekutukan Ia dengan makhluk-Nya.
Setimbal dengan (dosa besarmu) itu, kau dihukum dengan pencabutan sumber rizkimu, semisal kehilangan pekerjaan yang halal.

Bila kau campakkan ketergantungan dan pengemisanmu kepada mereka dan berlindung kepada mata pencaharianmu, hidup dengannya, dan lupalah kamu akan ridha Allah, maka hal ini juga termasuk syirik, malah lebih berbahaya dari yang pertama, karena kemusyrikan semacam ini halus sekali sehingga sulit dilihat.

Tentu, Allah akan menghukummu atas kedurhakaanmu ini, dengan makin menjauhkanmu dari ridha-Nya.
Bila telah berpaling dari kesesatan semacam itu, membuang jauh-jauh segala kemusyrikan dari kahidupan, dan mencampakkan semua ketergantungan kepada mata pencaharian dan kemampuan diri, dan yakin hanya Dialah Pemberi Rizki, Pencipta segala kemudahan, Pemberi kekuatan untuk mencari nafkah, Pemberi segala kebaikan, dan bahwa rizki sepenuhnya berada di tangan-Nya, maka rizki itu kadang dilimpahkan-Nya kepadamu melalui orang lain, kala kau mendapat musibah dan sedang berupaya mengatasinya.

Kadang rizki itu datang kepadamu melalui upahmu dari bekerja, kadang rizki itu datang kepadamu melalui ridha-Nya, hingga kau tak melihat sebab dan perantaranya.

Nah, berpalinglah kepadaNya, campakkanlah segera di hadapan-Nya kedirian, maka diangkatNya tabir pengalang antara kau dan ridha-Nya, dan dibuka-Nya pintu-pintu rizki dengan ridha-Nya, seperti seorang dokter merawat pasiennya.
sebagai perlindunganNya atasmu, agar kau tak menyimpang.
Sungguh Ia menyayangimu dengan limpahan ridha-Nya.

Nah, bila telah diusirNya dari hatimu kedirian dan kesenangan, maka tinggallah di sana kehendakNya semata.
Lalu, bila Ia ingin memberikan bagianmu kepadamu, yang tak mungkin lepas dari tanganmu, dan memang bukan hak orang lain, maka ditimbulkan-Nya di dalam hatimu keinginan untuk meraih bagianmu, dan diserahkan-Nya ke tanganmu kala kau membutuhkannya.

lalu, diberi-Nya kau kemampuan mensyukuri nikmat tersebut.
Kau akan selalu disadarkan-Nya kepadamu sebagai bagianmu.
Untuk itu, kau mesti menyadarinya dan bersyukur kepada-Nya.
Semua ini meneguhkanmu dalam menjauhi manusia, dan mengosongkan hatimu dari segala selain Allah.

Bila hikmah ilmumu tinggi, keyakinanmu teguh, hatimu tercerahkan, maqam derajatmu makin dekat dengan-Nya, maka kau diberi-Nya kemampuan “melihat ke depan”, sebagai tanda kerelaanmu dan sebagai penghargaan atas harkatmu.

Ini hanyalah sebagian dari keridhaan-Nya, sebagai rahmat dan petunjuk-Nya, sebagai rahmat dan petunjuk-Nya.

Allah telah berfirman:

Dan kami jadikan ia (al-Kitab) itu petunjuk bagi Bani Israil.
Dan Kami jadikan di antara mereka itu, pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar, dan meyakini ayat-ayat kami.”
(QS.32:23-24 <//QS.32:23-24>).

Dan orang-orang yang berjihad demi Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS.29:69)

Dan takutlah kepada Allah, niscaya Ia mengajarimu, dan memberimu kemampuan untuk mengawasi semesta alam, dengan izin yang jelas, yang tiada kegelapan di dalamnya, dan dengan tanda yang nyata, yang terang benderang bagai sang surya, dan dengan tutur kata yang manis, yang lebih menarik dari segala apa pun, dan dengan ilham yang benar, yang tak sedikit pun mengandung kekaburan, yang bersih dari dorongan setan dan dari rayuan iblis yang terkutuk.

Allah berfirman:

“Wahai Bani Adam, Akulah Allah, tak sesuatu pun layak dipuja kecuali Daku.
Aku berfirman ‘Jadilah’, ia pun akan maujud.
Taatilah Aku, niscaya kau akan Kubuat sedemikian rupa, sehingga jika berseru ‘jadilah’, ia pun akan maujud.”

Dan Ia telah membuat ihwal serupa ini kepada beberapa Rasul-Nya, beberapa wali-Nya, dan orang-orang yang sangat diridhai-Nya di antara hamba-hamba-Nya.

Halaman Yang Berhubungan

Risalah ke-17

Ia bertutur:

Bila ‘bersatu’ dengan Allah dan mencapai kedekatan dengan-Nya lewat pertolongan-Nya, maka makna hakiki ‘bersatu’ dengan Allah ialah berlepas diri dari makhluk dan kedirian, dan sesuai dengan kehendak-Nya, tanpa gerakmu, yang ada hanya kehendak-Nya.

Nah, inilah keadaan fana (peluruhan), dan dengannya itulah ‘manunggal’ dengan Tuhan.
‘Bersatu’ dengan Allah tentu tak sama dengan bersatu dengan ciptaan-Nya.

Bukanlah Ia telah menyatakan:

“Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha melihat.”
(QS. 42:11)

Allah tak terpadani oleh semua ciptaan-Nya.
‘Bersatu’ dengan-Nya lazim dikenal oleh mereka yang mengalami kebersatuan ini.
Pengalaman mereka berlainan, dan khusus bagi mereka sendiri.
Pada diri setiap Rasul, Nabi dan wali Allah, terdapat suatu rahasia yang tak dapat diketahui oleh orang lain.
Sering terjadi, seorang murid menyimpan suatu rahasia yang tak diceritakannya kepada sang syaikh, dan sebaliknya sang syaikh kadang merahasiakan sesuatu yang tak diketahui si murid, kendati mungkin suluk si murid sudah mendekati ambang pintu maqam ruhani sang syaikh, ia terpisah dari syaikh-nya, dan Allahlah yang menjadi pembimbingnya.

Allah memutuskan hubungannya dengan ciptaan.
Dengan demikian, sang syaikh menjadi bagai seorang inang pengasuh yang berhenti menyusui sang bayi setelah dua tahun.
Tiada lagi baginya hubungan dengan ciptaan, setelah lenyapnya kedirian.
Sang syaikh diperlukan, selama si murid masih terbelenggu kedirian, yang mesti dihancurkan.

Tapi, begitu kelemahan manusiawi ini musnah, maka pada dirinya tak ada lagi noda dan kerusakan, dan ia tak lagi membutuhkan sang syaikh.
Jadi, bila sudah ‘bersatu’ dengan Allah sebagaimana yang digambarkan di atas, kau bersih dari segala selain Allah.
Tak kau lihat lagi sesuatu pun kecuali Allah, di kala suka maupun duka, ketakutan maupun berharap, kau hanya menjumpai Dia, Allah SWT, yang patut kau takuti, yang layak kau mintai perlindungan-Nya.

Nah, perhatikan senantiasa kehendak-Nya , dambakanlah perintah-Nya, dan pautuhlah selalu kepadanya-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Jangan biarkan hatimu tertambat pada salah satu ciptaan-Nya.
Pandanglah semua ciptaan bagai orang yang ditahan oleh Raja sebuah kerajaan besar, lalu sang raja merantai leher dan kedua lengannya, menyalibkannya pada sebatang pohon pinus yang berada di tebing sungai berarus deras, bergelombang dan amat dalam.

Sementara itu sang Raja duduk di atas singgasana yang tinggi, bersenjatakan lembing, panah, dan berbagai senjata bidik.
Lalu mulailah sang raja mengarahkan dan membidikkan salah satu senjata bidiknya kepada si tawanan.
Dapatkah kita hargai orang yang melihat ini semua, dan memalingkan penglihatannya dari sang raja, sama sekali tak takut kepada raja itu, tak berharap kepadanya, tak iba kepada tawanan itu dan tak memohonkan ampunan untuknya?

Bukankah, menurut pertimbangan akal sehat, orang semacam ini tergolong tolol, gila, tak berbudi, dan tak manusiawi?

Nah, berlindunglah kepada Allah dari kebutaan hati, sesudah memiliki bashirah ( mata hati), dari keterpisahan sesudah ‘bersatu’, dari keterasingan sesudah keakraban, dari ketersesatan sesudah memperoleh petunjuk, dan dari kekufuran sesudah beriman.
Dunia ini bak sungai besar berarus deras.

Setiap hari airnya bertambah, dan itulah perumpamaan nafsu hewani manusia dan segala kesenangan duniawi.
Sedang anak panah dan berbagai senjata bidik, melambangkan ujian hidup manusia. Jelaslah, unsur-unsur yang menguasai kehidupan manusia yaitu berbagai cobaan hidup, musibah, penderitaan, dan semua upaya mengatasinya.

Bahkan semua karunia dan nikmat yang diterimanya, dibayang-bayangi oleh berbagai musibah.
Oleh karena itu, bila seorang cerdik-cendekia sudi menyigi masalah ini terus-menerus, maka ia akan memperoleh pengetahuan tentang hakikat, bahwa tak ada kehidupan sejati kecuali kehidupan akhirat.

Rasulullah saw. Bersabda:
“Tak ada kehidupan selain kehidupan di akhirat.”

Ihwal semacam ini benar-benar terbukti bagi seornag Mukmin, sesuai dengan sabda Nabi saw.:
“Dunia ini adalah penjara bagi seorang Mukmin dan surga bagi seorang kafir.” 

Beliau juga bersabda:
“Orang saleh terkekang.”

Bagaimana bisa hidup enak di dunia ini, bila diingat hal ini?
Sesungguhnya, kenyamanan hakiki terletak pada hubungan sempurna dengan Allah SWT, penyerahan diri sepenuhnya kepada-Nya.
Bila kau lakukan hal ini, niscaya kau terbebas dari dunia ini, dan kepadamu dilimpahkan rahmat, kebahagiaan, kebajikan, kesejahteraan, dan keridhaan-Nya.

Risalah ke-18

Ia bertutur:

Janganlah kau mengeluh tentang sesuatu bencana yang menimpamu kepada siapa pun, baik kepada kawan maupun lawan.
Jangan pula menyalahkan Tuhanmu atas semua takdir-Nya bagimu, dan atas ujian yang ditimpakan-Nya atasmu.
Beritakanlah semua kebaikan yang dilimpahkan-Nya atasmu.

Beritakanlah semua kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepadamu, dan segala puji syukur atas semua itu.
Kedustaanmu menyatakan puji syukurmu atas sesuatu rahmat yang sesungguhnya belum datang kepadamu, lebih baik ketimbang Perihal ujian hidup.
Adakah ciptaan yang sunyi dari rahmat-Nya?

Allah SWT berfirman:

“Dan jika kamu hitung nikmat-nikmat Allah, kamu takkan sanggup menghitungnya.”
(QS. 14:34)

Betapa banyak nikmat yang telah kau terima, dan tak kau sadari!
Jangan merasa senang dengan ciptaan, jangan menyenanginya, dan jangan menceritakan hal ihwalmu kepada siapa pun.
Cintamu harus kautujukan hanya kepada-Nya, merasa senanglah dengan-Nya dan mengeluhlah hanya kepada-Nya.

Jangan kau lihat orang lain, karena mereka tak memberi manfaat dan mudharat. Segala suatu adalah ciptaan-Nya, di tangan-Nyalah sumber gerak atau diam mereka.
Kemaujudan mereka sampai detik ini pun semara-mata karena kehendak-Nya.
Dialah penentu derajat mereka.

Barangsiapa dimuliakan-Nya, maka takkan ada yang mampu menjadikannya hina.
Dan barangsiapa dihinakan-Nya, takkan ada yang mampu menjadikannya mulia.
Jika Allah berkehendak menimpakan keburukan atasmu, tak seorang pun sanggup mencegahnya, selain Ia sendiri.
Dan jika Ia berniat melimpahkan kebaikan, tak seorang pun sanggup menahan turunnya rahmat-Nya.

Nah, bila kau mengeluh terhadap-Nya, padahal kau menikmati rahmat-Nya, kau tamak, dan menutup mata atas yang kau miliki, maka Allah murka kepadamu, mencabut kembali nikmat-Nya darimu, mewujudkan segala keluhanmu, melipatgandakan kesusahanmu, dan memperhebat hukuman, kemurkaan dan kebencian-Nya kepadamu.
Kau menjadi terhinakan di mata-Nya.
Oleh karena itu, janganlah mengeluh sedikit pun, walau jasadmu digunting-gunting menjadi serpihan-serpihan kecil daging.

Selamatkanlah dirimu! Takutlah kepada Allah! Takutlah kepada Allah! Takutlah kepada Allah! Sesungguhnya, sebagian besar musibah yang menimpa anak Adam, dikarenakan oleh keluhan-keluhan mereka terhadap-Nya.

Kenapa menyalahkan-Nya?
Padahal Ia Maha pengasih, Maha adil, Maha sabar, Maha pengasih, Maha penyayang, dan yang lemah-lembut terhadap hamba-hamba-Nya, melebihi seorang dokter yang sabar, pengasih, penyayang, ramah, yang juga kerabat si pasien.

Dapatkah kau temui sesuatu kesalahan pada diri seorang ayah atau ibu yang berhati mulia.

Nabi Suci saw., telah bersabda:
“Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya ketimbang seorang ibu terhadap anaknya.”

Wahai yang dirundung malang! Tunjukkanlah perilaku terbaik.
Tunjukkanlah kesabaranmu bila musibah menimpamu, meski kau tak berdaya karenanya.
Bersabarlah selalu, meski kau kepayahan dalam menyerahkan diri kepada-Nya.
Bertakwalah selalu kepada-Nya.
Ridha dan rindulah kepada-Nya.
Jika masih kau temui kedirianmu, bergegaslah keluar darinya.
Bila kau terhilang, dimanakah kau’kan didapat?
Dimanakah kau?
Belumkah kaudengar firman Allah:

“Diwajibkan atas kamu berperang, sesungguhnya beperang itu sesuatu yang kamu benci.
Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu.
Dan Allah Maha-mengetahui, sedang kamu tak mengetahui.”
(QS>2:216).

Pengetahuan ihwal hakikat segala suatu tercabut dari hatimu dan tertutup dari penglihatanmu oleh tabir.
Oleh karena itu, jangan berlebih-lebihan dalam membenci ataupun mencintai sesuatu.
Ikutilah segala ketentuan syariat dalam segala keadaan, jika kau benar-benar saleh.
Setelah kau jalani hal ini, maka ikutilah semua perintah tentang wilayat, dan teguhlah selalu.
Ridhalah atas ketentuan-Nya dan berdamailah dengan kehendak-Nya.
Dan, luruhlah ke dalam keadaan badal, ghauts dan shiddig.

Bertolaklah senantiasa dari jalan nasib, jangan berdiri di tengah-tengahnya, gantilah dirimu dan hasratmu (denngan kehendak-Nya), dan tahanlah lidahmu dari segala keluhan.
Bila hal ini telah kau jalani, maka Tuhanmu mengaruniamu kebaikan berlimpah, kehidupan yang nyaman dan bahagia, dan melindungimu, karena ketaatanmu kepada-Nya.
Bila di dalam diri manusia, bersarang berbagai dosa, noda dan kesalahan, maka tak layak baginya bersama-Nya, sebelum ia bersih dari dosa-dosa.

Tak seorang pun dapat mencium ambang pintu-Nya, kecuali ia suci dari noda ujub, sebagaimana tak seorang pun layak bersama raja, kecuali ia bersih dari noda dan bau busuk.

Nah, semua musibah tak lain adalah sarana penebus dan pembersih diri.
Nabi saw. Telah bersabda:
“Demam sehari dapat menebus dosa sepanjang tahun.”

Risalah ke-19

Ia bertutur:

Bila kau lemah iman, bila dijanjikan kepadamu sesuatu, janji itu dipenuhi, sehingga keimananmu tak sirna.
Tapi, bila keyakinan dan kepastian ini jadi kuat dan mantap di dalam hatimu, maka, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya kamu pada hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi terpercaya di sisi Kami.”
(QS.12:54),

dan menjadilah kau salah seorang yang terpilih, bahkan yang terpilih dari yang terpilih.
Maka sirnalah tujuan maupun kehendak pribadimu.
Lalu, kau seolah-olah sebuah bejana yang tak cairan pun bisa berada di atasnya, sehingga tiada kedirian di dalam dirimu.
Kau menjadi bersih dari segala selain Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaagung.
Kau menjadi ridha kepada-Nya, kepadamu dijanjikan keridhaan-Nya, sehingga kau dapat menikmati dan terahmati atas semua tindakan-Nya.
Maka kepadamu dijanjikan sesuatu, bila kau puas dengan (janji) itu, dan tanda kepuasan ada padamu, maka kau dipindahkan-Nya ke janji lain yang lebih tinggi.

Dijadikan-Nya kau lebih terhormat, dan dianugerahkan-Nya kepadamu rasa cukup-diri terhadap janji.
Dibuka-Nya bagimu pintu-pintu hikmah, disingkapkan-Nya bagimu misteri Ilahiah, kebenaran hakiki, makna perubahan janji-Nya.
Dan dalam maqam barumu, kau alami peningkatan kemampuan memelihara keadaan ruhaniahmu.
Lalu, kepadamu dianugerahkan derajat ruhani, yang didalamnya dipercayakan kepadamu rahasia-rahasia, dan kau alami perluasan dada, ketercerahan hati, kefasihan lidah, derajat tinggi ilmu dan kecintaan.
Maka kau menjadi kesayangan semua makhluk, baik manusia maupun jin, dan makhluk-makhluk lainnya, di dunia dan di akhirat.

Bila kau menjadi ‘pilihan’ Allah, maka orang tunduk kepada-Nya, cinta mereka berada di dalam cinta-Nya, dan kebencian mereka berada di dalam kebencian-Nya.
Dengan ini, kau telah diantarkan-Nya ke tempat yang amat tinggi, dan di sana tak kau jumpai lagi kedirianmu akan segala benda.
Lalu, dibuat-Nya kau penuh hasrat terhadap sesuatu, maka nafsumu ini dimusnahkan dan dilenyapkan, dan kau dipalingkan-Nya jauh-jauh dari keinginan serupa itu lagi.

Jadi, tak diberikan-Nya yang kau inginkan di dunia ini, akan dilimpahkan kepadamu di akhirat kelak, sehingga meningkatkan keakrabanmu dengan-Nya, dan menyejukkan kedua matamu di surga yang tinggi, di dalam taman yang abadi.

Tapi, bila selama ini kau tak berhasrat terhadap sesuatu pun, tak berharap kepada siapa pun, tak condong kepada apa pun – karena kau sadar bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, dan tipuannya menyesatkan yang mencintainya – tapi, tujuanmu adalah sang Khalik, yang telah menciptakan, mewujudkan, menahan dan melimpahkan segala suatu, yang telah membentangkan bumi dan menegakkan langit, maka kepadamu dilimpahkan segala yang kau butuhkan di dunia ini.

Tentu saja, ini semua diberikan kepadamu, setelah kau putus asa akibat dipalingkan dari semua hasrat duniawi, dan sesudah kau merasa mantap akan kehidupan akhirat sebagaimana yang telah kita bicarakan.

Risalah ke-20

Ia bertutur:

Nabi Suci Muhammad saw. Bersabda:
“Campakkanlah segala yang menimbulkan keraguan dibenakmu, tentang yang halal dan yang haram, dan ambillah segala yang tak menimbulkan keraguan pada dirimu.” 

Bila sesuatu yang meragukan, maka ambillah jalan yang didalamnya tiada sedikit pun keraguan dan campakkanlah yang menimbulkan keraguan.

Nabi bersabda:

“Dosa menciptakan kekacauan dalam hati.”

Tunggulah, bila dalam keadaan begini, perintah batin.
Bila kau diperintahkan untuk mengambilnya, maka lakukanlah sesukamu.
Jika kau dilarang, maka jauhilah dan anggaplah itu sebagai tak pernah maujud, dan berpalinglah ke pintu Allah, dan mintalah pertolongan dari Tuhanmu. 

Andaikata kau merasa kehabisan kesabaran, kepasrahan dan kefanaan, maka ingatlah bahwa Dia SWT tak butuh diingat, Dia tak lupa kepadamu dan selainmu.
ia yang Maha kuasa lagi Maha agung memberikan rizki kepada para kafir, munafik dan mereka yang tak mematuhi-Nya.
Mungkinkah Dia lupa kepadamu, duhai yang beriman, yang mengimani keesaan-Nya, yang senantiasa patuh kepada-Nya dan yang teguh dalam menunaikan perintah-perintah-Nya siang dan malam. 

Sabda Nabi Suci yang lain:
“Campakkanlah segala yang menimbulkan keraguan di benakmu, dan ambillah yang tak menimbulkan keraguan,”

memerintahkanmu untuk melecehkan yang ada di tangan manusia, untuk tak mengharapkan sesuatu pun dari manusia, atau untuk tak takut kepada mereka, dan untuk menerima karunia Allah.
Dan inilah yang takkan membuatmu ragu.
Karena itu, hanya ada satu, yang kepadanya kita meminta, satu pemberi dan satu tujuan, yaitu Tuhanmu, Yang Maha perkasa lagi Maha agung, yang di tangan-Nya kening para raja dan hati manusia, yang adalah raja tubuh, berada – yaitu bahwa hati mengendalikan tubuh – tubuh dan uang manusia adalah milik-Nya, sedang manusia adalah agen dan kepercayaan-Nya.

Bila mereka menggerakkan tangan mereka kepadamu, hal itu atas izin, perintah dan gerak-Nya.
Begitu pula, bila karunia ditahan darimu.

Allah SWT berfirman:

“Mintalah kepada Allah karunia-Nya.” “Sesungguhnya yang kau abdi selain Allah, tak memberimu sesuatu pun karena itu, mintalah karunia kepada Allah dan abdilah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya.”

“Bila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat; Aku menerima doa dari yang berdoa bila ia berdoa kepada-Ku.”

“Serulah Aku, maka Aku akan menyahutmu.”

“Sesungguhnya Allah adalah Pemberi karunia, Tuhan kekuatan.”

“Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”
Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke 16-20 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: udan ,