Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke-55-58

Risalah ke-55
Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke-55-58

Ia bertutur:

Kesenangan hidup dicampakkan tiga kali.
Pada awalnya sang hamba Allah berada dalam kegelapan, kejahilan dan kekacauan, bertindak berdasarkan dorongan-dorongan alaminya dalam segala keadaan, tanpa sikap pengabdian terhadap Tuhannya dan tanpa memperhatikan hukum agama.

Dalam keadaan begini, Allah memandangnya penuh kasih, maka dianugerahkan-Nya kepadanya pengingat dari sesamanya, seorang hamba saleh-Nya.
Dan kawan pengingat ini juga terdapat dalam dirinya sendiri.

Kedua pengingat ini jaya atas dirinya, dan peringatan menimbulkan pengaruh pada jiwanya.
Maka noda yang ada padanya, seperti memperturutkan kehendak dirinya dan penentangannya terhadap kebenaran, sirna.

Maka condonglah ia kepada hukum Allah dalam segalagerak-geriknya.
Menjadilah sang hamba Allah itu seorang Muslim di hadapan hukum-Nya, lepas dari alamnya, membuang hal-hal haram duniawi, begitu pula hal-hal yang meragukan dan pertolongan orang.
Maka ia melakukan hal-hal yang halal dalam makan, minum, berpakaian, menikah, bertempat tinggal dan lain-lain.
dan semua ini sangat muhim bagi kesehatan jasmani dan bagi mendapatkan kekuatan untuk mengabdi kepada-Nya, agar ia bisa memperoleh bagian dan orang tak bisa melampauinya – takkan luput dari kehidupan duniawi ini sebelum meraih dan menyempurnakannya.

Maka ia berjalan di atas jalur kebenaran dalam keadaan hidupnya, sehingga hal ini membawanya ke maqam tertinggi wilayat dan menjadikannya pembukti kebenaran dan orang pilihan, yang memiliki pernyataan yang kukuh, yang haus akan hakikat, yaitu Allah.

Maka ia makan dengan perintah-Nya, dan (sang salik) mendengar suara Allah di dalam dirinya berkata:

“Campakkanlah dirimu dan campakkanlah kesenangan dan ciptaan, jika kau menghendaki sang Pencipta.
Lepaskanlah sepatu dunia dan akhiratmu.
Nafilah dari segala kemaujudan, hal-hal yang akan maujud dan segala dambaan.
Lepaslah dari segala suatu.
Berbahagialah dengan Allah, campakkanlah kesyirikan dan ikhlasan dalam kehendak.
Mendekatlah kepada-Nya dengan hormat, dan jangan memandang kehidupan akhirat, kehidupan duniawi, orang-orang dan kesenangan.”

Bila ia meraih maqam ini, maka ia menerima busana kemuliaan dan aneka karunia.
Dikatakan kepadanya, busanailah dirimu dengan rahmat dan karunia, jangan berburuk-laku menilai dan menampik keinginan-keinginan, karena penolakan terhadap karunia raja sama dengan menekannya dan meremehkan kekuasaannya.

Maka ia terselimuti karunia dan anugera-Nya tanpa berupaya.
Sebelumnya ia terkuasai oleh keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan dirinya.

Maka dikatakan kepadanya:

“Selimutilah dirimu dengan rahmat dan karunia Allah.”

Maka baginya empat keadaan, dalam meraih kenikmatan dan karunia.

Yang pertama ialah dorongan alami, ini tak halal.
Yang kedua ialah hukum, ini diperbolehkan dan absah.
Yang ketiga adalah perintah batin, ini adalah keadaan para wali dan pencampakan keinginan.
Yang keempat ialah karunia Allah, ini adalah keadaan lenyapnya tujuan dan tercapainya badaliyya dan keadaan menjadi objek-Nya, yang berdiri di atas ketentuan-Nya.
ini adalah keadaan tahu dan keadaan memiliki kesalehan, dan tak seorang pun bisa disebut saleh, jika ia belum meraih maqam ini.

Hal ini sesuai dengan firman Allah:

Sesungguhnya Waliku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab dan Ia adalah Wali orang-orang saleh (bajik).”
(QS. 12:196).

Menjadilah ia seorang hamba yang tertahan dari menggunakan sesuatu, memanfaatkan diri dan dari menolak sesuatu yang mudharat baginya.
Ia menjdai seperti bayi di tangan perawat dan seperti jasad mati yang sedang dimandikan orang.
Maka Allah membesarkannya tanpa kehendaknya dan tanpa upayanya, ia lepas dari segala hal ini, tak berkeadaan atau bermaqam, tak berkehendak melainkan berada di atas ketentuan-Nya, yang kadang menahan, kadang memudahkannya, kadang membuatnya kaya dan kadang membuatnya miskin.

Ia tak punya pilihan, dan tak menghendaki berlalunya keadaan dan perubahannya.
Sebaliknya, ia menunjukkan keridhaan abadi.
Inilah keadaan ruhani terakhit yang dicapaioleh para badal dan wali.

Risalah ke-56

baca: Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke-59

Ia bertutur:

Bila hamba Allah telah lepas dari ciptaan, keinginan, diri, tujuan dan kehendak akan dunia dan akhirat, maka ia tak menghendaki sesuatu pun selain Allah yang Maha perkasa lagi MahaMagung, dan segala suatu sirna dari hatinya.

Maka ia menjadi pilihan-Nya, dicintai oleh ciptaan, dekat kepada-Nya dan menerima karunia-Nya melalui rahmat-Nya.
Dibukakan-Nya baginya pintu-pintu kasih dan janji-Nya, dan Ia tak pernah menutup pintu-pintu itu terhadapnya.
Maka sang hamba memilih Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, berkehendak melalui kehendak-Nya, ridha dengan keridhaan-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan tak melihat suatu kemaujudan pun selain kemaujudan-Nya yang Maha kuasa lagi Maha agung.

Maka Allah menjanjikan kepadanya dan tak memenuhi hamba-Nya, dan yang didambakan samh hamba dalam hal ini tak datang kepadanya, karena keterpisahan lenyap dengan lenyapnya kehendak, tujuan dan pengupayaan kenikmatan.
Maka keseluruhan dirinya menjadi kehendak Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung.

Maka tiada janji atau pun pengingkaran janji dalam hal ini, karena hal ini ada pada orang yang berkeinginan.

Pada maqam ini, janji Allah Yang Maha kuasa lagi MahaMagung terhadap orang semacam itu, dapat digambarkan dengan contoh seorang yang berkehendak di dalam dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu, lalu berubah kehendak terhadap sesuatu yang lain.
Begitu pula, Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung telah menurunkan kepada Nabi Muhammad saw wahyu-wahyu yang membatalkan dan yang terbatalkan,sebagaimana firman-Nya:

Wahyu yang kami hapuskan atau jadikan terlupakan, Kami gantikan dengan yang lebih baik.
Tidakkah kau tahu bahwa Allah kuasa atas segala-nya?”
(QS.2:106)

Ketika Nabi saw lepas dari keinginan dan kehendak, kecuali pada saat-saat tertentu, sebagaimana telah disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran Suci, sehubungan dengan tawanan perang Badar, sebagai berikut:

Kamu menginginkan barang-barang lemah dunia ini, sedang Allah menghendaki bagimu akhirat; dan Ia Maha kuasa lagi Maha bijaksana.
Andaikan bukan karena hukum Allah yang telah berlaku, sesungguhnya akan menimpamu siksaan yang besar atas yang kau lakukan.”
(QS.8:67-68)

Nabi saw adalah kekasih Allah, yang Ia senantiasa menempatkannya pada ketentuan-Nya dan memberikan kendali-Nya kepadanya; maka Ia menggerakkannya di tengah-tengah ketentuan-Nya dan senantiasa memperingatkannya dengan firman-firman-Nya:

“Tidakkah kau tahu bahwa Allah Mahakuasa atas segalanya?”
(QS.2:106) 

Dengan kata lain, kamu berada di samudra ketentuan-Nya, yang gelombangnya mengombang-ambingkan kamu, kadang kesini, kadang kesana.
Dengan demikian setelah wali ialah Nabi.
Tiada maqam setelah wali dan badal selain maqam Nabi.

Risalah ke-57

baca: Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke-60

Ia bertutur:

Segala pengalaman spiritual merupakan pengekangan, sebab sang wali diperintahkan untuk menjaga hal-hal itu.
Segala yang diperintahkan untuk dijaga menimbulkan pengekangan.
Berada dalam ketentuan Allah merupakan kemudahan, sebab yang diperintahkan hanyalah memaujudkan diri dalam ketentuan-Nya.

Sang wali tak boleh bersitegang dalam masalah ketentuan-Nya.
Ia harus selaras dan tak boleh bertentangan dengan segala yang terjadi pada dirinya, entah manis atau pahit.
Pengalaman itu terbatas, maka dari itu diperintahkan untuk menjaga pengalaman itu.

Di lain pihak, kehendak Allah, yang merupakan ketentuan, tak terbatas.
Isyarat bahwa hamba Allah telah mencapai kehendak-Nya dan kemudahan ialah diperintahkan-Nya ia untuk meminta kenikmatan-kenikmatan setelah diperintahkan untuk mencampakkannya dan menjauh darinya, sebab bila ruhaninya hampa akan kenikmatan, dan yang tinggal dalam dirinya hanyalah Tuhan, maka ia dimudahkan dan diperintahkan untuk meminta, mendambakan dan menginginkan hal-hal yang menjadi haknya dan yang bisa ia peroleh melalui permintaannya akan hal-hal itu, sehingga harga dirinya di mata Allah, kedudukannya dan karunia Allah Yang Maha perkasa lagi Maha agung, dengan diterimanya doanya, menjadi kenyataan.

Menggunakan lidah untuk meminta kenikmatan sangat menunjukkan hal setelah pengekangan dan keluar dari segala pengalaman, kedudukan dan dari upaya keras menjaga batas.
Bila ditolak bahwa lenyapnya kesulitan dalam menjaga hukum ini menyebabkan ateisme dan keluar dari Islam sebagaimana firman-Nya:

“Abdilah Tuhanmu sampai kematian datang kepadamu.”
(QS.15:99)

Jawabku ialah bahwa hal ini tak berarti begitu dan takkan begitu, tetapi bahwa Allah amat pemurah dan wali-Nya amat dicintai-Nya, sehingga Dia tak dapat mengizinkannya untuk menduduki suatu kedudukan hina di mata hukum dan agama-Nya.

Sebaliknya, Dia menyelamatkannya dari semua itu, menjauhkannya dari semua itu, melindunginya dan menjaganya di dalam batas-batas hukum.
Maka ia terlindung dari dosa dan senantiasa berada di dalam batas-batas hukum tanpa upaya dan perjuangan dari dirinya, sedang ia tak sadar akan keadaan ini dikarenakan oleh kedekatannya kepada Tuhannya.

Allah berfirman:

Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya ia adalah salah satu dari hamba-hamba terpilih kami.
(QS.12:24)

Sesungguhnya terhadap hamba-hamba-Ku kau tak berkuasa.”
(QS.15:42)

Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan.
(QS.37:40)

Duhai orang yang malang!

Orang semacam itu dijauhkan oleh Allah dan ia adalah curahan-Nya.
Dia memeliharanya dalam pangkuan kedekatan dan kasih-sayang-Nya.
Bagaimana bisa si iblis mendekatinya.
Bagaimana bisa kekejian mendekatinya.
Semoga kekejian terhancurkan oleh daya dan kelembutan sempurnanya!
Semoga Dia melindungi kita dengan perlindungan dan kasih-sayang sempurna sehingga kita senantiasa mampu menjauhkan diri dari dosa-dosa.

Semoga Dia memelihara kita dengan rahmat-rahmat dan karunia-karunia sempurna-Nya melalui tindak kasih-sayang-Nya!

Risalah ke_58

baca: Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke-61

Ia bertutur:

Butalah terhadap segala hal.
Tutuplah matamu terhadap sesuatu pun dari hal-hal itu.
Bila kau lihat sesuatu pun dari hal-hal itu, maka karunia dan kedekatan Allah SWT akan tertutup bagimu.

Oleh karena itu, tutuplah segala hal dengan kesadaranmu akan keesaan Allah dan dengan peniadaan diri.

Maka akan tampak oleh mata hatimu hal Allah SWT, dan kau akan melihatnya dengan kedua mata hatimu ketika hal itu tersinari oleh nur hatimu, nur imanmu dan nur keyakinan teguhmu.

Pada saat itu cahaya ruhanimu akan mewujud pada lahiriahmu bak cahaya sebuah lampu di malam pekat yang mencuat melalui lubang-lubangnya sehingga sisi luar rumah menjadi tercerahkan oleh cahaya dari dalam.
Maka diri dan anasir tubuh akan merasa ridha dengan janji Allah dan karunia-Nya. 

Maka dari itu, kasihanilah diri kita.
Jangan berbuat aniaya terhadapnya.
Jangan campakkan ia di kegelapan ketakacuhan dan kebodohanmu, agar ia tak melihat ciptaan, daya, perolehan, sarana dan tak bertumpu pada hal-hal itu.
Sebab jika kau lakukan hal itu, maka segala hal akan tertutup bagimu dan karunia Allah akan tertutup pula bagimu lantaran kesyirikanmu.

Nah, bila telah kau sadari keesaan-Nya, telah kau lihat karunia-Nya, kau hanya berharap kepada-Nya dan telah kau butakan dirimu terhadap segalanya selain-Nya, maka Dia akan membuatmu dekat dengan Diri-Nya, akan mengasihimu, akan menjagamu, akan memberimu makanan, minuman dan perawatan, akan membuatmu bahagia, akan menganugerahimu karunia-karunia, akan menolongmu, akan menjadikan kau penguasa, akan menafikanmu dari ciptaan serta dari dirimu sendiri, dan akan membuatmu tiada, sehingga kau takkan melihat baik kemiskinanmu maupun kekayaanmu.

baca juga: Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke-62
Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke-55-58 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: udan ,