Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke 6-10

Risalah ke 6

Ia bertutur:

Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian, dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya.

Lenyapnya diri dari manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan jiwa dari segala harapan mereka.

Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah, membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan dan tak bergerak demi kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah, karena Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhirnya,  sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.

Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan katak-pernahan menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun termiliki, kecuali satu, yaitu Allah.
Maka, kehendak Allah mewujud dalam dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh, hati pun tenang, pikiran pun cerah, berserilah wajah dan ruhanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya.

Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan busana ruhani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah mendahuluimu. 

Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air, atau larutan.
Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga ruhanimu menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah.

Pada maqam ini, keajaiban dan adialami akan ternisbahkan kepadamu.
Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu, padahal sebenarnya dari Allah.
Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari.

Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah bersabda:

“Tiga hal yang kusenangi dari dunia. wewangian, wanita dan shalat,  yang pada mereka tersejukkan mataku.”

Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan.

Allah berfirman:

“Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku.”

Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna.
Dan bila kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itu, kau berkehendak.
Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati.
Dengan cara begini Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa) dengan Tuhan.

Inilah makna firman Allah:

”Aku bersama orang-orang yang putus asa demi Aku,”

Dan makna kata: “Kedirian masih maujud”

ialah kemasihkukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw:

“Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan.”

Tak diragukan lagi, beginilah keadaan fana.
Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke dalam samudra kebaikanNya,sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan.

Maka fana (penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaigus dasar perjalanan para wali.
Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak pribadi kepada kehendak Allah.
Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari badala, yang berarti: berubah).

Bagi pribadi-pribadi ini, menggabungkan kehendak pribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.
Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat.
Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral, tak terlindungi.

Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari kekotoran kehendak.
Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua keburukan ini, karena mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka. 

Risalah ke 7

Baca: Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke 1-5

Ia bertutur:

Keluarlah dari kedirian, jauhilah dia, dan pasarahkanlah segala sesuatu kepada Allah, jadilah penjaga pintu hatimu, patuhilah senantiasa perintah-perintah-Nya, hormatilah larangan-larangan-Nya, dengan menjauhkan segala yang diharamkan-Nya.
Jangan biarkan kedirianmu masuk ke dalam hatimu, setelah keterbuanganmu.
Mengusir kedirian dari hati, haruslah disertai pertahanan terhadapnya, dan menolak pematuhan kepadanya dalam segala keadaan.

Mengizinkan ia masuk ke dalam hati, berarti rela mengabdi kepadanya, dan berintim dengannya.
Maka, jangan menghendaki segala yang bukan kehendak Allah.
Segala kehendak yang bukan kehendak Allah, adalah kedirian, yang adalah rimba kejahilan, dan hal itu membinasakanmu, dan penyebab keterasingan dari-Nya. Karena itu, jagalah perintah Allah, jauhilah larangan-Nya, berpasrahlah selalu kepada-Nya dalam segala yang telah ditetapkan-Nya, dan jangan sekutukan Dia dengan sesuatu pun.

Jangan berkehendak diri, agar tak tergolong orang-orang musyrik.

Allah berfirman:

Barang siapa mengharap penjumpaan (liqa) dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak menyekutukanNya.”
(QS 18.Al Kahfi: 110)

Kesyirikan tak hanya penyembahan berhala.
Pemanjaan nafsu jasmani, dan menyamakan segala yang ada di dunia dan akhirat dengan Allah, juga syirik.
Sebab selain Allah adalah bukan Tuhan.
Bila kau tenggelamkan dalam sesuatu selain Allah berarti kau menyekutukan-Nya.

Oleh sebab itu, waspadalah, jangan terlena.
Maka dengan menyendiri, akan diperoleh keamanan.
Jangan menganggap dan mengklaim segala kemaujudan atau maqam-mu, berkat kau sendiri.
Maka, bila kau berkedudukan, atau dalam keadaan tertentu, jangan membicarakan hal itu kepada orang lain.
Sebab dalam perubahan nasib yang terjadi dari hari ke hari, keagungan Allah mewujud, dan Allah mengantarai hamba-hambaNya dan hati-hati mereka.
Bisa-bisa yang kau percakapkan, sirna darimu, dan yang kau anggap abadi, berubah, hingga kau termalukan di hadapan yang kau ajak bicara.

Simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu, dan jangan perbincangkakn dengan orang lain.
Maka jika hal itu terus maujud, maka hal itu akan membawa kemajuan dalam pengetahuan, nur, kesadaran dan pandangan.

Allah berfirman:

“Segala yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan terlupakan, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya, atau yang sepertinya.
Tidakkah kamu ketahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS 2.Al Baqarah: 106)

jangan menganggap Allah tak berdaya dalam sesuatu hal, jangan menganggap ketetan-Nya tak sempurna, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya.
Dalam hal ini ada sebuah contoh luhur dalam Nabi Allah.
Ayat-ayat dan surah-surah yang diturunkan kepadanya, dan yang dipraktekkan, dikumandangkan di masjid-masjid, dan termaktub di dalam kitab-kitab.

Mengenai hikmah dan keadaan ruhani yang dimilikinya, ia sering mengatakan bahwa hatinya sering tertutup awan, dan ia berlindung kepada Allah tujuh puluh kali sehari.

Diriwayatkan pula, bahwa dalam sehari ia dibawa dari satu hal ke hal lain sebanyak seratus kali, sampai ia berada pada maqam tertinggi dalam kedekatan dengan Allah.
Ia diperintahkan untuk meminta perlindungan kepada Allah, karena sebaik-baik seorang hamba yaitu berlindung dan berpaling kepada Allah.
Karena, dengan begini, ada pengakuan akan dosa dan kesalahannya, dan inilah dua macam mutu yang terdapat pada seorang hamba, dalam segala keadaan kehidupan, dan yang dimilikinya sebagai pusaka dari Adam as., ‘bapak’ manusia, dan pilihan Allah.

Berkatalah Adam a.s.:

Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tak mengampuni kami, dan merahmati kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang merugi.
(QS. 7.Al-A’raaf: 23).

Maka turunlah kepadanya cahaya petunjuk dan pengetahuan tentang taubat, akibat dan tentang hikmah di balik peristiwa ini, yang takkan terungkap tanpa ini; lalu Allah berpaling kepada mereka dengan penuh kasih sayang, sehingga mereka bisa bertaubat.

Dan Allah mengembalikannya ke hal semua, dan beradalah ia pada peringkat wilayat yang lebih tinggi, dan ia dikaruniai maqam di dunia dan akhirat.

Maka menjadilah dunia ini tempat kehidupannya dan keturunannya, sedang akhirat sebagai tempat kembali dan tempat peristirahatan abadi mereka.

Maka, ikutilah Nabi Muhammad Saw., kekasih dan pilihan Allah, dan nenek moyangnya, Adam, pilihan-Nya.
keduanya adalah kekasih Allah dalam hal mengakui kesalahan dan berlindung kepada-Nya dari dosa-dosa, dan dalam hal bertawadhu’ dalam segala keadaan kehidupan.

Risalah ke 8

baca: Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke-50-54


Ia bertutur:

Bila kau berada dalam hal tertentu, jangan mengharapkan hal yang lain, baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah.
Jadi bila kau berada di pintu gerbang istana Raja, jangan berkeinginan untuk masuk ke istana itu, kecuali terpaksa.

Yang dimaksud dengan terpaksa ialah diperintah terus-menerus.
Dan jangan menganggapnya sebagai izin masuk, karena mungkin saja Raja menjebakmu.
Tapi, bersabarlah, sampai kau benar-benar dipaksa memasukinya oleh sang Raja.

Dengan demikian, sang Raja takkan menghukummu, karena Dia sendiri menghendakinya.
Jika kau toh dihukum, tentu disebabkan oleh keburukan kehendak, kerakusan, ketaksabaran, kekurangajaran, dan keinginanmu untuk berpuas dengan keadaan kehidupanmu.
Bila kau harus masuk ke dalamnya karena terpaksa, masuklah dengan penuh ketenangan dan ketundukan pandangan, bersikaplah yang layak dan indahkanlah semua perintah-Nya dengan sepenuh jiwa tanpa mengharapkan kemajuan dalam tingkat kehidupan.

Allah berfirman kepada Rasul pilihan-Nya :

“Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai hiasan hidup, untuk Kami cobai mereka dengannya.
Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan abadi.”
(QS 20. Thaahaa: 131)

Dengan firman-Nya:

“Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan abadi”.
Allah memperingatkan Nabi pilihan-Nya, agar menghargai hal yang ada, dan mensyukuri karunia-karunia-Nya.
Dengan kata lain, perintah ini adalah sebagai berikut:

“Segala yang telah Aku karuniakan kepadamu kebaikan, kenabian, ilmu, keridhaan, kesabaran, kerajaan agama, dan jihad di jalanKu lebih baik dan lebih berharga ketimbang semua yang Kuberikan kepada yang lain.”

Jadi, segala kebaikan terletak pada menghargai dan mensyukuri keadaan yang ada, dan menghindarkan selainnya, karena hal semacam itu merupakan cobaan dari-Nya.

Jadi bila sesuatu telah ditentukan-Nya bagimu, tentu sesuatu itu akan datang kepadamu, suka atau tidak suka. Karenanya, sungguh tak patut, bila
kekuranglayakan dan kerakusan terwujud padamu, kedua-duanya tertolak oleh akal dan ilmu.
Dan jika sesuatu itu ditakdirkan-Nya bagi orang lain, mengapa kau bersusah payah meraih sesuatu yang tak bisa kau raih?

Dan jika sesuatu tak diturunkan-Nya kepada siapapun, hanya sebagai cobaan, mana mungkin seorang arif menyukainya dan berupaya keras meraih itu?

Terbuktilah, bahwa seluruh kebaikan dan keselamatan terletak pada menghargai keadaan yang ada.
Maka, bila kau dinaikkan ke tingkat atas, sampai ke atap istana, maka kau sebagaimana telah kami nyatakan, mesti sadar diri, tenang, dan baik-laku.
Kau mesti berbuat lebih dari ini, sebab kau kini lebih dekat kepada sang Raja, dan lebih dekat kepada marabahaya.

Maka, jangan menginginkan perubahan keadaan yang ada padamu.
Nah, kau tak punya pilihan dalam masalah ini, sebab hal itu mendorong ketak bersyukuran atas rahmat-rahmat yang ada, dan cita semacam ini menjadikan terhina, baik di dunia maupun di akhirat.

Maka berlakulah sebagamana yang telah kami nasihatkan kepadamu, sampai kau dikarunia oleh Allah maqam yang teguh, dan takkan tergoyahkan dengan segala tanda dan isyaratnya.
Karena itu, tambatkanlah padanya dan jangan biarkan dirimu lepas darinya.
(Keadaan perubahan ruhani) adalah milik para wali, sedang maqam (peringkat ruhani) adalah milik para badal.

Risalah ke 9

baca: Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke-55-58

Ia bertutur:

KehendakNya terwujud, secara kasyf (penglihatan ruhani) dan musyahida (pengalaman-pengalama ruhani), pada para wali dan badal, yang tak terjangkau nalar manusia dan kebiasaan.
Perwujudan ini terbentuk: jalal (keagungan), dan jamal (keindahan).

Jalal menghasilkan kegelisahan, pemahaman yang menggundahkan, dan sedemikian menguasai hati, sehingga gejala-gejalanya tampak pada jasmani.

Diriwayatkan bila Rasulullah shalat, dari hatinya terdengar gemuruh, bak air mendidih di dalam ketel, karena intensitas ketakutan yang timbul dari penglihatan beliau akan Kekuasaan dan KebesaranNya.

Diriwayatkan bahwa pilihan Allah, Nabi Ibrahim as dan Umar sang Khalifah ra, juga mengalami keadaan yang serupa. 
Mengalami perwujudan keindahan Ilahi merupakan refleksiNya pada hati manusia yang mewujudkan nur, keagungan, kata-kata manis, ucapan penuh kasih-sayang, dan kegembiraan atas kelimpahan keruniaNya, maqam yang tinggi, dan keakraban denganNya,  yang kepadaNya segala urusan mereka kembali dan atas takdir yang telah ditetapkanNya jauh di masa lampau.

Inilah karunia dan rahmatNya, dan pengukuhan atas mereka di dunia ini, sampai waktu tertentu.
Ini dilakukan agar mereka tak melampaui kadar cinta yang layak dalam keinginan mereka akan hal itu, dan karenanya, hati mereka takkan berputus asa, kendati mereka jumpai berbagai hambatan atau bahkan terkulaikan oleh hebatnya ibadah mereka sampai datangnya kematian.

Ia melakukan ini berdasarkan kelembutan, kasih sayang dan kehormatan, juga untuk melatih agar hati mereka lembut, karena Dia bijaksana, mengetahui, lembut terhadap mereka.

Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. Sering berkata kepada Hadhrat Bilal sang muadzin:
“Wahai Bilal, gembirakanlah hati kami,”

Maksud beliau, hendaklah ia serukan azan agar beliau bisa shalat, guna merasakan perwujudan-perwujudan rahmat Ilahi, sebagaimana telah kita bicarakan.

Itulah sebabnya Nabi saw bersabda:
“Dan mataku sejuk, bila aku shalat.”

Risalah ke 10

baca: Niat Sholat Tarawih dan Witir Lengkap dengan Bacaan Doa 11 Rakaat

Ia bertutur:

Sungguh tiada sesuatu, kecuali Allah, sedang dirimu adalah tandanya.
Kedirian manusia bertentangan dengan Allah.
Segala suatu patuh kepada Allah dan milik Allah, demikian pula dengan kedirian manusia, sebagai makhluk sekaligus milikNya.
Kedirian manusia itu pongah, darinya tumbuh dambaan-dambaan palsu.

Nah, jika kau menyatu dengan kebenaran, dengan menundukkan dirimu sendiri, maka kau menjadi milik Allah dan menjadi musuh dirimu sendiri.

Allah telah bersabda kepada Nabi Daud as:

“Wahai Daud, Akulah tujuan hidupmu, yang tak mungkin kau elakkan.
Karenanya berpegangbteguhlah kepada tujuan yang satu ini; beribadahlah sebenar-benarnya, sampai kau menjadi lawan keakuanmu, semata-mata karena Aku.”

Maka keakrabanmu dengan Allah dan pengabdianmu kepadaNya menjadi kenyataan.
Lalu kau peroleh bagianmu nan suci sungguh menyenangkan.
Dengan demikian kau dicintai dan terhormat, dan segala sesuatu mengabdi dan takut kepadamu, karena semua tunduk kepada Tuhan mereka, dan selaras denganNya, karena Dia adalah Pencipta mereka, dan mereka mengabdi kepadaNya. 

Firman Allah:

“Dan tak ada sesuatu pun melainkan bartasbih memujiNya, tetapi kamu tak mengerti tasbih mereka.”
(QS 17:44).

Maka segala sesuatu di alam raya ini menyadari keridhaanNya, dan menaati perintah-perintahNya.

Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung berfirman:

Lalu Ia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Hendaklah kamu berdua datang dengan suka ataupun terpaksa’, Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.'”
(QS 41:11).

Jadi, segala pengabdian kepadaNya terletak pada penentangan terhadap kedirian.

Allah berfirman:

“Dan janganlah engkau turuti hawa nafsumu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS 38:26).

Ia juga berfirman:

“Hindarilah hawa nafsumu, karena sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang menentangKu di seluruh kerajaanKu, kecuali nafsu jasmani manusia.”

Suatu ketika Abu Yazid Bustami bermimpi bertemu Allah, dan bertanya kepadaNya:

“Bagaimana cara menjumpaiMu ?”
JawabNya: “Buanglah keakuanmu dan berpalinglah kepadaKu”.
“Lalu”, lanjut sang Sufi, “aku keluar dari diriku bagai seekor ular keluar dari selongsong tubuhnya.”

Jadi, segala kebajikan terletak pada memerangi kedirian dalam segala hal dan segala keadaan.
Karena itu, jika berada pada kesalehan, tundukkanlah kedirian, hingga kau terbebas dari hal-hal terlarang dan syubhat.
dari pertolongan mereka, dari ketergantungan kepada mereka, dari rasa takut terhadap mereka atau dari rasa iri terhadap milikan duniawi mereka.

(Syubhat: sesuatu yang meragukan ihwal halal atau haramnya).

Lalu jangan mengharapkan sesuatu dari mereka, baik hadiah, kemurahan, atau pun sedekah.
Karenanya bila kau bergaul dengan seorang kaya, jangan mengharapkan kematiannya demi mewarisi hartanya,.
Maka, bebaskanlah dirimu dari ikatan makhluk, dan anggaplah mereka itu pintu gerbang yang membuka dan menutup., atau pohon yang kadang berbuah dan kadang tidak.

Ketahuilah, peristiwa semacam itu terjadi oleh satu pelaksana, dirancang oleh satu perancang, dan Dialah Allah, sehingga kau beriman pada Keesaan Allah. Jangan pula melupakan upaya manusiawi, agar tak menjadi korban keyakinan kaum fatalis (Jabariyyah), dan yakinlah bahwa tak suatu pun terwujud, kecuali atas izin Allah Ta’ala.

Karena itu, jangan Anda puja upaya manusiawi, karena yang demikian ini melupakan Tuhan, dan jangan berkata bahwa tindakan-tindakan manusia berasal dari sesuatu.
Bila demikian, berarti kau tak beriman, dan termasuk dalam golongan Qadariyah.
Hendaknya kau katakan, bahwa segala aksi makhluk adalah milik Allah, inilah pandangan yang telah diturunkan kepada kita lewat keterangan-keterangan yang berhubungan dengan masalah pahala dan hukuman.

Dan laksanakan perintah-perintah Allah yang berkenaan dengan mereka (manusia), dan pisahkanlah bagianmu sendiri dari mereka dengan perintahNya pula, dan jangan melampaui batas ini, karena hukum Allah itu pasti menentukanmu dan mereka, jangan menjadi penentu diri sendiri.
Kemaujudanmu bersama mereka merupakan takdirNya.

TakdirNya merupakan ‘kegelapan’, maka masukilah ‘kegelapan’ ini dengan pelita sekaligus penentu, yaitu Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasul.

Jangan tinggalkan kedua-duanya.
Tapi bila di dalam pikiranmu melintas suatu gagasan, atau kau menerima ilham, maka tundukkanlah mereka kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul.
Bila kau dapati larangan dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul tentang yang terlintas pada benakmu dan yang kau terima melalui ilham, maka kau mesti menjauhi gagasan dan ilham semacam itu.
Yakinilah bahwa gagasan dan ilham itu berasal dari setan yang terlaknat.
Dan jika Kitab Allah dan Sunnah Rasul membolehkan gagasan dan ilham itu – semisal pemenuhan keinginan-keinginan yang dibolehkan hukum, seperti makan, minum, berpakaian, menikah, dan lain-lain – maka jauhilah pula gagasan dan ilham itu, jangan menerimanya.

Ketahuilah, hal itu merupakan dorongan hewanimu, karenanya, tentanglah dan musuhilah hal itu.
Bila kau dapati tiadanya larangan atau pembolehan di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul, tentang yang kau terima, dan kau tak mengrti -semisal kau diminta pergi ke tempat tertentu, atau menemuhi seseorang yang saleh, padahal melalui karunia ilmu dan pencerahan dari Allah kepadamu, kau tak perlu pergi ke tempat itu, atau menemui si orang saleh itu maka bersabarlah, jangan dulu melakukan sesuatu, dan bertanyalah kepada dirimu sendiri:

“Benarkah ini ilham dari Allah dan mesti aku laksanakan ?”

Adalah Sunnah Allah, mengulang-ulang ilham semacam itu, dan memerintahkanmu untuk segera berupaya atau menyibakkan isyarat semacam itu bagi para ahli hikmah – suatu isyarat yang hanya bisa dimengerti oleh para wali yang arif dan para badal yang teguh.

Karena itu, kau mesti tak segera berbuat, sebab kau tak tahu akibat dan tujuan akhir urusan, cobaan, bahaya dan sesuatu rancangan gaib dariNya.
Maka bersabarlah, sampai Allah Sendiri melakukannya bagimu.
Bila tindakan itu atas kehendakNya, dan kau diantarkn ke maqam itu, maka bila cobaan menghadangmu, kau akan melewatinya dengan selamat, karena Allah takkan menghukummu atas tindakan yang dikehendakiNya sendiri, namun Ia akan menghukummu atas keterlibatan langsungmu dalam kemaujudan suatu hal. 
Menaati perintah itu meliputi dua hal.

Pertama, mengambil dari sarana penghidupan duniawi sebatas keperluanmu, dan mesti menghindari segala pemanjaan kesenangan jasmani, rampungkanlah semua tugas-tugasmu, dan ikatlah dirimu kepada penghalauan segala dosa, yang nyata dan yang tersembunyi.

Kedua, berhubungan dengan perintah-perintah-perintah tersembunyi, yakni Allah tak menyruh hambaNya untuk mengerjakan sesuatu, dan tak pula melarangnya.
Perintah seperti ini berkaitan dengan hal-hal yang padanya tak ada hukum yang jelas, yakni hal-hal yang tak tergolong terlarang dan tak terwajibkan, dengan kata lain ‘tak jelas’, yang di dalamnya manusia diberi kebebasan penuh untuk bertindak, dan hal ini disebut mubah.

Dalam hal ini tak boleh mengambil prakarsa, tetapi menunggu perintah yang bertalian dengannya.
Bila menerima perintah itu, ia taati.
Dengan demikian semua gerak dan diamnya menjadi demi Allah.
Jika ada kejelasan hukumnya, ia bertindak selaras dengannya.
Bila tak ada kejelasan hukumnya, ia bertindak atas dasar perintah-perintah tersembunyi.

Melalui ini, ia menjadi seteguh orang memperoleh hakikat.
Bila kau telah sampai pada kebenarannya kebenaran, yang disebut pencelupan (mahwu) atau peleburan (fana), berarti kau berada pada maqam badal yang patah hati demi Dia, suatu keadaan yang dimiliki muwahhid, oarang yang tercerahkan ruhaninya, orang arif, yang adalah amir para amir, pengawas dan pelindung umat, khalifah dati Yang Maha Pengasih, kepercayaanNya (alaihimussalam).
Untuk menaati perintah, kau harus melawan kedirianmu, dan bebas dari ketergantunagn kepada segala kemampuan dan kekuatan, dan mutlak harus terhindar dari segala kemauan dan tujuan duniawi dan ukhrawi.

Dengan demikian, kau menjadi abdi Sang Raja, bukan abdi kerajaanNya, bukan abdi perintahNya, bukan pula abdi kedirian. Kau seperti bayi dalam asuhan alam, atau mayat yang dimandikan, atau pasien tak sadarkan diri di hadapan sang dokter, dalam segala hal yang berada di luar wilayah perintah dan larangan.

baca juga: Doa dan Shalat Witir
Kitab FUTUH AL GHAIB, Risalah Ke 6-10 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: udan ,