Kitab Futuh Al-Ghaib Risalah ke 21-25

Risalah ke-21

Ia bertutur:

Aku melihat setan terkutuk dalam mimpi seolah aku berada dalam sebuah kerumunan besar dan aku berniat membunuhnya.
Lalu si setan itu berkata kepadaku, “Kenapa kamu hendak membunuhku, dan apa dosaku?

Jika Allah menentukan keburukan, maka aku tak kuasa mengubahnya menjadi kebaikan.

Jika Allah menentukan kebaikan, maka aku tak kuasa mengubahnya menjadi keburukan.
Dan apa yang ada ditanganku?”

Dan kulihat dia seperti seorang kasim, lembut ucapannya, dagunya berjenggot, hina pandangannya dan buruk mukanya, seolah ia tersenyum kepadaku, penuh malu dan ketakutan.
Hal ini terjadi pada malam Ahad, 12 Zulhijjah 401 H.

Risalah ke-22

Ia bertutur:

Allah menguji hamba beriman-Nya menurut kadar imannya.
Jika iman seseoranng kuat, maka cobaannya pun kuat.

Cobaan seorang Rasul lebih besar daripada cobaan seorang Nabi, karena iman Rasul lebih tinggi daripada iman Nabi.

Cobaan Nabi lebih besar daripada cobaan seorang badal.
Cobaan seorang badal lebih besar daripada cobaan seorang wali.

Setiap orang diuji menurut kadar iman dan keyakinannya.

Tentang ini Nabi Suci saw. Bersabda:

“Sesungguhnya kami, para Nabi, adalah orang yang paling banyak diuji.
Oleh karena itu, Allah terus menguji pemimpin-peminpin mulia ini, agar mereka senantiasa berada di sisi-Nya dan tak lengah sedikit pun.
Dia SWT mencintai mereka, dan mereka adalah orang-orang yang penuh cinta dan dicintai oleh Allah, dan pencinta takkan pernah ingin menjauh dari yang dicintainya.

Maka, cobaan-cobaan memperkukuh hati dan jiwa mereka dan menjaganya dari kecenderungan terhadap sesuatu yang bukan tujuan hidup mereka, dari merasa senang dan cenderung kepada sesuatu selain Pencipta mereka.

Nah, bila hal ini merasuk ke dalam diri mereka, maka hawa nafsu mereka meleleh, kedirian mereka hancur lebur dan kebenaran menjadi terang-benderang.
Maka, kehendak mereka terhadap segala kesenangan hidup ini dan akhirat tertambat di sudut jiwa mereka.
Dan kebahagiaan mereka berlabuh pada janji Allah, keridhaan mereka kepada takdir-Nya, dan kesabaran mereka dalam cobaan-Nya.

Maka, selamatkanlah mereka dari kejahatan makhluk-Nya dan keinginan hati mereka.
Maka, hati menjadi kukuh dan mengendalikan anasir tubuh.
Sebab cobaan dan musibah memperkuat hati, keyakinan, iman dn kesabaran, dan melemahkan hewani dan hawa nafsu.
Sebab bila penderitaan datang, sedang sang beriman bersabar, ridha, pasrah kepada kehendak Allah dan bersyukur kepada-Nya, maka Allah menjadi ridha dengannya, dan turunlah kepadanya pertolongan, karunia dan kakuatan.

Allah SWT berfirman:

“Jika kau bersyukur tentu akan Kutambahkan.”

Bila diri manusia berhasil membuat hati memperturutkan keinginan tanpa adanya perintah dan izin dari Allah, kesyirikan dan dosa.
Maka, Allah menimpakan kepada jiwa dan hati noda, musibah, luka, kecemasan, kepedihan dan penyakit.
Hati dan jiwa terpengaruh oleh penderitaan ini.
Namun, bila hati tak mempedulikan panggilan ini, sebelum Allah mengizinkannya melalui ilham, bagi wali, dan wahyu, bagi Rasul dan Nabi, maka Allah menganugerahi jiwa dan hati kasih-sayang, rahmat, kebahagiaan, kecerahan, kedekatan dengan-Nya, keterlepasan dari kebutuhan dan bencana.
Ketahui dan camkanlah hal ini. 
Selamatkanlah dirimu dari cobaan dengan penuh kewaspadaan, dengan tak segera menimpali panggilan jiwa dan keinginannya.
Tapi, tunggulah dengan sabar izin dari Allah agar kau senantiasa selamat di dunia ini dan di akhirat.

Risalah ke-23

Ia bertutur:

Pegang teguh dan ridhalah atas sedikit yang kau miliki, hingga ketentuan nasib mencapai puncaknya, dan kau dibawa ke keadaan yang lebih tinggi.
Kau akan ditempatkan di dalamnya, dan terjaga dari kekerasan duniawi ini, akhirat, kekejian dan kesesatan.

Kemudian kau akan dibawa kepada yang mengenakan matamu.
Ketahuilah bahwa bagianmu takkan lepas darimu dengan pengupayaanmu terhadapnya, sedang yang bukan bagianmu takkan kau raih walau kau berupaya keras.
Maka dari itu, bersabarlah dan ridhalah dengan keadaanmu.

Jangan mengambil atau memberikan sesuatu pun sebelum diperintahkan.
Jangan bergerak atau diam semaumu, sebab jika kau berlaku begini, kau akan diuji dengan keadaan yang lebih buruk daripada keadaanmu.
Sebab, dengan kekeliruan seperti itu kau berarti berbuat aniaya terhadap diri sendiri dan Allah mengetahui yang berbuat aniaya.

Allah berfirman:

“Dan demikianlah Kami dijadikan sebagian orang yang zalim sebagai teman bagi sebagian yang lain disebabkan oleh yang mereka upayakan.”
(QS.6:129)

Sebab kau berada di rumah Raja, yang perintah-Nya berdaulat, yang Maha kuat, yang tentara-Nya amat besar, yang kehendak-Nya berdaulat, yang aturan-Nya sempurna, yang kerajaan-Nya abadi, yang kedaulatan-Nya menyeluruh, yang pengetahuan-Nya tinggi, yang kebijakan-Nya dalam, yang Maha adil, yang dari-Nya tak zarah pun tersembunyi baik di bumi maupun di langit dan tak kezaliman para zalim pun tersembunyi dari-Nya.

Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah takkan mengampuni siapa pun yang menyekutukan-Nya, dan Ia akan mengampuni selain itu yang dikehendaki-Nya.
(QS.4:48)

Berupayalah sekuat daya untuk senantiasa tak menyekutukan Allah.
Jangan mendekati dosa ini dan jauhilah ia dalam segala gerak dan diammu siang dan malam baik sendirian maupun bersama.
Waspadalah terhadap segala bentuk dosa dalam anasir tubuhmu dan dalam hatimu.
Hindarilah dosa yang tampak ataupun tersembunyi.
Jangan menjauh dari Allah, sebab Ia akan mencengkaumu.
Jangan bersitegang dengan-Nya atas takdir-Nya, sebab Ia akan melumatkanmu.
jangan salahkan aturan-Nya, agar kau tak dihinakan-Nya.
jangan melupakan-Nya agar kau tak dilupakan-Nya dan tak mengalami kesulitan.
jangan mereka-reka di dalam rumah-Nya agar kau tak dibinasakan-Nya.
jangan memperkatakan tentang agama-Nya dengan hawa nafsu agar kau tak binasa, agar hatimu tak gelap, agar iman dan pengetahuanmu tak tercabut darimu, agar kau tak dikuasai oleh kekejianmu, hewanimu, hawa nafsumu, keluargamu, tetanggamu, sahabatmu, ciptaan termasuk kalajengking, ular serta jin rumahmu dan makhluk-makhluk melata lainnya, sehingga dengan demikian hidupmu di dunia ini akan gelap dan kau akan disiksa di akhirat terus-menerus.

Risalah ke-24

Ia bertutur:

Jauhilah sekuat daya ketakpatuhan kepada Allah, yang Maha mulia lagi Maha agung.
Bertumpulah kepada Pintu-Nya dengan kebenaran.
Berupayalah sekuat daya mematuhi-Nya dengan tobat dan doa, dengan menunjukan kebutuhanmu atas kepatuhan dan kerendah hatian, dengan khusuk dan menunduk, dengan tak memandang orang atau mengikuti hewani, atau mengupayakan balasan duniawi atau ukhrawi, tak mengharapkan maqam yang lebih tinggi.

Camkanlah bahwa kau adalah hamba-Nya, dan bahwa sang hamba serta segala miliknya adalah milik tuannya, sehingga ia tak dapat mengakui apa pun terhadapnya.
Berperilaku baiklah dan jangan salahkan Tuhanmu.
Segala suatu ditentukan oleh-Nya.
Segala yang Ia majukan, tak satu pun dapat memundurkannya.
Segala yang dimundurkan-Nya, tak satu pun dapat memajukannya.
Beginilah Allah memperlakukan Sendiri segala keadaanmu.

Ia menganugerahimu tempat tingggal nan abadi di akhirat dan sekaligus menjadikanmu pemiliknya dan akan menganugerahkan kepadamu karunia-karunia yang tiada mata pernah melihat, tiada telinga pernah mendengar dan tiada hati manusia pernah meresakan.

Allah berfirman:

Tiada jiwa pun yang tahu apa yang disembunyikan bagi mereka, yaitu yang akan mengenakkan mata, sebagai balasan atas yang telah mereka perbuat.”
(QS 32:17)

Yaitu balasan atas kepatuhan dan kepasrahan merea kepada Allah dalam segala hal.
Mengenainya, yang Allah telah anugerahkan hal duniawi, menjadikannya pemiliknya, merahmatinya dan melimpahkan karunia-Nya, Ia melakukan yang demikian ini lantaran keimanan orang ini bagai padang tandus, yang didalamnya tak memungkinkan air, pohon, tetumbuhan dan bebuahan mewujud.
Maka Ia tebarkan di dalamnya rabuk dan segala yang serupa itu, yang menumbuhkan tetumbuhan dan pepohonan, dan inilah dunia dan segala isinya, untuk menjaga segala yang telah ditumbuhkan-Nya di dalamnya, yang berupa pohon iman dan tanaman amal.

Andai kata hal-hal ini pupus darinya, maka tanah, tetumbuhan dan pepohonan akan menjadi kering, buahnya luruh dan keseluruhan pedusunan akan menjadi sunyi, dan Yang Maha kuasa lagi Maha agung menghendakinya dihuni dan ceria. 
Maka pohon iman seorang kaya lemah akarnya dan hampa akan yang mengisi pohon imanmu.

Wahai darwis, sesungguhnya kekuatan lainnya dan kesinambungan kemaujudannya tergantung pada dunia dan aneka nikmatnya yang kau lihat pada pemiliknya, dan tiada padanya yang lebih disukai selain yang telah kulukiskan bagimu.

Semoga Allah menganugerahi kita daya untuk menggapai yang dicintai-Nya.
Jadi, kekuatan dan kesinambungan karunia duniawi, yang kau dapati padanya, – andai kata semua ini tercerabut darinya, sedang pohonnya lemah, maka pohon itu akan menjadi kering dan si orang kaya ini akan menjadi kafir, munafik dan murtad, – jika Allah tak mengirimkan bagi orang kaya ini tentara kesabaran, keteguhan, pengetahuan dan aneka ketercerahan ruhani, yang memperkukuh imannya, maka ia takkan merasa kehilangan dengan merasa kehilangan dengan lenyapnya kekayaan dan karunia.

Risalah ke-25

Ia bertutur:

Jangan berkata, wahai orang yang malang! Yang darinya dunia dan orang-orangnya telah memalingkan muka mereka, yang hina, yang lapar dan yang dahaga, yang telanjang, yang hatinya terpanggang, yang merambah ke setiap sudut dunia, di setiap masjid dan tempat-tempat sunyi, yang terjauhkan dari setiap pintu, yang terhancurkan, yang jemu dan yang kecewa dengan segala keinginan dan kerinduan hati.

jangan berkata bahwa Allah telah membuatmu miskin, menjauhkan dunia darimu, telah menjatuhkanmu, telah menjadi musuhmu, telah membuatmu kacau, tak mengukuhkan jiwamu, telah menghinakanmu, dan tak mencukupimu di dunia ini, telah mengelapimu, tak memuliakan namamu ditengah-tengah manusia, sedangkan kepada selianmu Ia anugerahkan banyak rahmat-Nya siang dan malam, memuliakan mereka atasmu dan keluargamu, padahal kamu sama-sama muslim dan mukmin dan nenek moyangmu sama-sama Hawa dan Adam, sang manusia terbaik.

Ya, Allah telah mempelakukanmu begini, sebab fitrahmu suci dan kesejukan kasih-sayang Allah terus-menerus melimpahimu dalam bentuk kesabaran, kepasrah-ikhlasan dan pengetahuan.
Dan cahaya iman serta tauhid menimpamu.
Maka pohon imanmu, akarnya dan benihnya menjadi kuat, penuh dedaunan, buah, cabang dan rantingnya merambah ke mana-mana sehingga menimbulkan keteduhan.
Setiap hari kian besar sehingga tak perlu lagi pertumbuhannya dibantu.

Allah tentukan bagimu akan kau peroleh tepat pada waktunya, entah kau suka atau tak suka.
Maka dari itu, janganlah serakah terhadap yang menjadi milikmu dan jangan cemas akannya.
Jangan merasa menyesal atas yang dimaksudkan bagi selainmu.

Yang bukan milikmu tentu:

1) Ia akan menjadi milikmu, atau
2) Ia akan menjadi milik orang lain.

Jika ia milikmu, ia akan datang kepadamu dan kau akan dibawa kepadanya sehingga pertemuan antara kau dan ia terjadi segera.
Sedang yang bukan milikmu, maka kau akan dijauhkan darinya dan ia pun akan menjauh darimu, sehingga kau dan ia takkan bertemu.

Allah berfirman:

“Dan jangan kamu tujukan kedua matamu kepada yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan duniawi ini, agar Kami cobai mereka dengan-nya.
Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS 20:131)

Nah, Allah telah melarangmu memperhatikan yang bukan hakmu.
Ia telah memperingatkanmu bahwa yang selain ini adalah cobaan, yang dengan-nya Ia menguji mereka dan bahwa keridhaanmu dengan bagianmu lebih baik bagimu, lebih suci dan lebih disukai.

maka jadikanlah ini sebagai jalanmu, yang melaluinya kau akan memperoleh segala kebaikan, rahmat, kegembiraan dan keindahan.

Allah berfirman:

“Tiada jiwa pun yang tahu apa yang disembunyikan bagi mereka, yaitu yang akan mengenakan mata, sebagai balasan atas yang telah mereka perbuat.”
(QS 32:17)

Nah, tiada kebajikan selain kelima jalan pengabdian, penghindaran dari segala dosa, dan tiada lebih besar, lebih mulia dan lebih disukai oleh Allah selain yang Kami sebutkan kepadamu.

Semoga Allah mengaruniaimu dan kami kemampuan untuk melakukan yang disukai-Nya.
Kitab Futuh Al-Ghaib Risalah ke 21-25 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: udan ,